Posted by: nina sabnita on: January 30, 2009
Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti 'icha' atau 'chacha' yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…
Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…
Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :
AfifAH MujahidAH FirmansyAH
AlifAH ShalihAH FirmansyAH
Rumaisha HanifAH FirmansyAH
Tuh kan?!
^_^ Ga sengaja lho… hehe…
Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…
Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.
Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, yang dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu.
Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancer lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.
Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja. Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja.
Juga tidak ada keluhan berarti setelah lahirnya. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?
ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…
Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.
Semoga Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…
Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…
Amiiiinnn…
Posted by: nina sabnita on: September 26, 2008
Pergilah sayang…
kejarlah keberkahan Ramadhan
yang tak datang dua kali
Pergilah kasih…
berlarilah menuju lailatul qadr
yang mulia tak terkira
Pergilah cinta…
cepatlah terbang kepada ridho-Nya
insyaAllah gerbang jannah-Nya terbuka untukmu
Semoga engkau mendapatkan apa yang kau impikan
sungguh… aku rela tinggal di sini
berharap ridhoku atasmu
membuatku juga dapat merasakan
keajaiban Ramadhan ini
[buat abi yang tidak pulang
demi Allah umi ridho bi
semoga Allah ridho kepada umi
karena umi ridho abi berlari mengejar lailatul qadr
semoga umi kecipratan barang sedikit keajaiban itu
Selamat i'tikaf abi... Doain umi ya...]
Posted by: nina sabnita on: September 8, 2008
Dalam dunia medis, penggunaan madu sebagai obat sudah dimulai sejak zaman Yunani dan Mesir Purba. Saat itu di Mesir, madu merupakan salah satu dari 500 obat terpopuler.
Madu sebagai obat penyakit jantung
Dr. FG Winarno, Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, dalam bukunya “Madu, Teknologi, Khasiat dan Analisa”, menyatakan: Gula dan mineral dalam madu berfungsi sebagai tonikum bagi jantung. Otot-otot jantung bekerja tanpa henti/istirahat, sehingga selalu membutuhkan glukosa sebagai sumber tenaga untuk mengganti energi yang hilang. Nutrisi madu sebagian besar (31%) terdiri atas glukosa.
Colomb dan Raff menyatakan:
Konsumsi madu 70% perhari selama 1-2 bulan oleh pasien penderita penyakit jantung berat akan menghasilkan konsisi yang baik, penerimaan darah makin normal serta kekuatan jantung meningkat
Madu sebagai obat masuk angin
Dalam bentuk madu biasa atau campuran dengan bahan lain, kombinasi yang sering dipakai adalah susu hangat atau sari jeruk peras. Separuh atau satu jeruk cukup untuk setiap 100 gram madu.
Madu sebagai obat penyakit lambung dan pencernaan
kandungan mineral yang cukup tinggi dapat mengurangi derajat keasaman dan membantu mencegah pendarahan lambung.
Mineral yang tinggi dapat meningkatkan pH dari lambung.
Semakin gelap warna madu semakin tinggi kandungan mineral, sehingga makin tinggi daya alkalinasinya. Hal ini semakin potensial untuk mengatasi penyakit lambung dan usus akibat penumpukan asam lambung.
Madu untuk mengobat penyakit paru-paru
Pasien Tuberkulosis (TBC) yang diberi madu 100-150 gr per hari, memberikan pengaruh positif, yaitu:
Madu untuk pengobatan luka infeksi
Luka-luka menjadi steril setelah mendapat pengobatan dengan madu selama 7-10 hari.
Madu terbukti dapat mempercepat pembentukan jaringan-jaringan yang halus.
RESEP OBAT DARI MADU
Madu yang berfungsi sebagai Suplement Food (makanan tambahan) dan obat dalam penggunaannya dapat dicampurkan dalam produk makanan lainnya, antara lain: buah-buahan, atau sari buah. Beberapa contohnya adalah:
Catatan: Jenis madu yang digunakan tergantung selera konsumen, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemakaian.
Posted by: nina sabnita on: August 29, 2008
Sore ini, di toilet lantai 4…
“Sini.. sini… jangan gerak-gerak!” seorang gadis berpakaian seragam SMA memegang maskara berhadapan dengan temannya yang dengan pasrah menyerahkan matanya untuk di ‘poles’.
“Ati-ati…” sahutnya.
“Makanya kamu beli dong!” kata temennya satu lagi yang juga sedang bercermin ‘merapikan’ diri (alias dandan, yang ini dah ahli keliatannya)
[Dengan cermin sepenuh dinding memang puas kalo dandan di toilet]
Pikiran saya langsung terbang ke tiga bidadari kecilku di rumah, terutama si kembar…
Ah, mereka memang baru dua tahun lebih, tapi…
Saya memang jarang (hampir ga pernah) dandan, tapi saat oma/neneknya dandan (make lipstik) selalu diliatin dengan seksama. Pernah suatu hari omanya kelupaan masukin lipstik ke kotaknya. Begitu perlu, nyari-nyari, tiba-tiba liat ada yang merah-merah, tau-tau ketemu lipstiknya udah patah dua. Dengan bibir merah-merah tak keruan, si kembar dengan bangga ngeliatin ‘hasil karya’nya ke omanya. (soalnya tiap kali minta “mmm…mmm…” sambil nunjuk-nunjuk bibirnya -biar dipakein juga, ga pernah dikasih)
Kali yang lain, pulang kantor seperti biasa disambut dengan teriakannya si kembar,”Aaaaabiiiiiiii…. Umi nana (umi mana?)”
“Tuh!” abi nunjuk saya yang lagi nutup pagar.
“Ummmiiiiiiiiiii….” Si kembar lari dan memeluk saya. Bibirnya merah-merah. Tak tanggung-tanggung, kuku tangan juga kakinya juga merah-merah berantakan. Setelah masuk rumah baru ketahuan yang dipake buat moles bibir dan kukunya, SPIDOL MERAH yang saya belikan untuk menggambar… Masya Allah…
[ah... anak umi udah gede]
Posted by: nina sabnita on: August 21, 2008
Begitu judul tulisannya mba nailalhusna (afwan nyontek mba…)
Menceritakan bagaimana suaminya senantiasa berada disampingnya, melayaninya tatkala sakit. Ah, betapa indahnya… Betapa bahagianya sepasang manusia yang saling mencintai…
Selesai membaca, pikiran saya langsung terbang ke sesosok wajah ganteng milik suami saya (halah).
Hhhhh… selalu ada hela nafas panjang setiap kali mengingatnya. Entah apa yang sudah saya lakukan di masa lalu yang membuat saya begitu beruntung dipertemukan dengan beliau. Kepribadian yang bersahaja, romantis, ga neko-neko, kesabaran yang luar biasa (koq dia ‘tahan’ ya sama saya…?), dan kasih sayang yang selalu ada untuk saya. Dia juga abi yang luar biasa bagi 3 bdadarinya…
Betapa sering saya merasa telah membuat dia bersedih, kecewa, ga sholelah… Seriiiiing banget! Tapi dia begitu sabar dan selalu memaafkan saya.
Seringkali saya merasa tak sepadan dengan beliau. Seharusnya dia mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya. Tapi Allah telah menentukan, sayalah wanita beruntung itu…
Ah, abi… Semoga aku bisa mendampingimu kelak dalam istana penuh bidadari jannah-Nya.
[abi di kantor jangan bersin2 ya...:-P]