Persembahan untuk Bidadari-bidadariku…

Ketagihan multiply

Maafkan saya karena blog wordpress ini jadi terabaikan.

Sebenarnya saya masih menulis, bahkan hampir tiap hari. Hanya saja tidak disini, melainkan di blog saya yang di multiply.

Fasilitas yang berbeda, juga kebanyakan teman-teman saya punya account disana menyebabkan saya balakangan lebih enjoy ber-eMPi-ria.

Hmmm… Mudah-mudahan saya bisa ‘adil’ me-manage kedua blog saya.

Maafkan saya ya…

Episode Raisha

Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti ‘icha’ atau ‘chacha’ yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…

Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…

Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :

AfifAH MujahidAH FirmansyAH

AlifAH ShalihAH FirmansyAH

Rumaisha HanifAH FirmansyAH

Tuh kan?!

^_^ Ga sengaja lho… hehe…

Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…

Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.

Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, yang dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu.

Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancer lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.

Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja. Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja.

Juga tidak ada keluhan berarti setelah lahirnya. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?

ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…

Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.

Semoga Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…

Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…

Amiiiinnn…


 

Kampus dalam kenangan

Banyak hal yang belakangan mengingatkan saya pada kampus saya tercinta, STAN jurangmangu. Sebelas lulusan STAN tahun ini sedang magang di ruangan saya. Juga mulai membuat account di Facebook yang lagi-lagi mempertemukan saya dengan teman-teman STAN saya, kenangan-kenangan bersama mereka kembali berputar-putar dalam memori saya. Juga melihat multiplynya mahasiswa dan alumni STAN yang beberapa dari mereka telah menjadi contacts saya…

Kampus STAN jurangmangu, yang selalu saja di tulis “STAN Jakarta” padahal posisi ada di Tangerang, Banten. Pertama kali menginjakkan kaki di tahun 2000, meski tak se”indah” kampus-kampus lainnya, tapi tak membuat kebanggaan saya berkurang.

Dan yang membuat saya paling bersyukur, karena di STAN, saya mendapatkan hidayahNya, mulai mengenakan busana taqwa, juga bersentuhan bahkan terlibat langsung dalam dawah bersama banyak teman lainnya -yang kemudian saya panggil ‘ikhwah’.

Sungguh, predikat “akhwat karbitan” pantas saya sandang, karena seakan dipaksakan. Seorang nina yang ‘begini’ tiba-tiba jadi ‘begitu’… Tapi itulah hidayah. Alhamdulillah… Allah berkenan mempertemukan saya dengan jalan yang telah dilalui para Nabi dan Rasul ini…

Wah, sesungguhnya saya malu, sangat tidak pantas, saya tidak berniat berkata bahwa saya telah melakukan tugas semulia para Nabi dan Rasul. Masih jaaaauuuuh… Tapi betapa keindahan ukhuwah yang saya rasakan dengan para ikhwah, keberkahan saat kita berani membagi sedikit ilmu tentang islam yang kita punya kepada yang lain, membuat saya begitu mencintai da’wah ini…

Begitu banyak kenangan-kenangan indah yang sungguh tak dapat saya ceritakan satu persatu. Hanya syukur yang begitu dalam kepada Allah SWT telah memberikan jalan hidup yang begitu indah, memperkenankan saya mengecap manisnya da’wah.

Semoga saya tetap istiqomah… 

Semoga saya termasuk kedalam salah satu manusia yang gembira saat gerbong da’wah ini memasuki jannah-Nya dan saya berada dalam salah satu gerbongnya, bukan penonton yang hanya menyesal telah turun dari gerbong atau malah tak pernah naik ke gerbong…

Semoga saya dan Anda, ikhwah fillah, dapat bertemu kembali dalam lingkaran yang sama bersama para sahabat, para shalih, para mujahid dan syuhada, dengan Rasulullah SAW sebagai Murabbinya, dalam taman syurga kelak….

Aaaaamiiiin….

Aaaminnn ya rabbal ‘aalamiiin…

Menurut penjelasan dari Jamil Azzaini, seorang trainer terkenal dari Kubik Leadership, setiap kali kita melakukan kebaikan maka kita telah mengeluarkan energi positif. Begitu juga sebaliknya, energi negatif bila kita melakukan suatu keburukan/kejahatan.

Pernah dilakukan percobaan terhadap dua wadah nasi. Wadah pertama ditulis suatu perintah agar orang-orang yang lewat mengucapkan kata-kata yang baik kepada nasi yang berada di wadah tsb. Dan kata-kata buruk pada wadah kedua. Apa yang terjadi kemudian? (seperti yang saya yakin juga ada di pikiran pembaca semua) Ternyata nasi di wadah 2 segera rusak, busuk, berjamur, dan berbau, tidak seperti nasi di wadah 1 yang tetap segar.

Sebagaimana konsep energi yang kita pelajari di sekolah, bahwa pada dasarnya energi tidak bisa hilang, hanya berganti bentuk dengan yang lain. Artinya kebaikan yang kita lakukan dalam bentuk energi positif yang kita berikan kepada orang lain, mungkin tidak akan kembali lagi ke kita dari orang tersebut. Tapi percayalah, bahwa kita akan menerimanya mungkin dari orang lain, mungkin juga dalam bentuk yang lain, juga di waktu yang lain.

Energi positif akan kembali kepada kita. Begitu pula energi negatif. Pernah mendapatkan keajaiban? Mungkin itu karena dulu Anda pernah berbuat kebaikan yang entah untuk siapa.

Banyak contoh dalam kehidupan kita… Anda pasti tau jawabnya…

Hanya saja, ada yang mengganjal pikiran saya. Terkait pekerjaan yang saya yang hampir setiap hari selalu mendengar kemarahan, kekesalan, ketidakpuasan, kekecewaan, dsb, Sehingga hampir setiap hari pula saya menerima energi negatif itu…

Menurut temen-temen, gimana ya?

Biasanya yang saya lakukan adalah dengan mendengarkan energi positif dari alunan murattal dari ust. Al Ghomidi. Tapi itu juga hanya bisa sebelum atau setelah jam kerja… Tidak sebanding dengan yang saya dapatkan sepanjang hari….

Any idea?

Jazakumullah sebelumnya…

kijang innovaDari sekian penderitaan, kemiskinan, gelandangan, pengangguran, yang ada di ibukota akan tampak kontras dengan berjejernya mobil mewah tsb. Tapi inilah Jakarta.

Setiap hari memperhatikan mobil-mobil, saya jadi tahu ternyata Toyota memang rajanya pasar. Setidaknya itu yang saya lihat setiap hari. Tentunya hanya mengira-ngira dengan penilaian sangat subjektif…^_^V

Beberapa mobil yang sering saya lihat adalah Toyota Kijang dari segala merek dan tahun pembuatan, Honda Jazz, Nissan Grand Livina, Nissan X-Trail, Toyota Rush, Daihatsu Xenia, Suzuki APV, Toyota camry, honda Vios, dan merek-merek yang lain… (apalnya cuma itu… hehe..)

Tapi menempati urutan 3 teratas (sekali lagi ini tidak ada dasar statistiknya, semata-mata pendapat pribadi berdasarkan laporan pandangan mata… xixixixi…) adalah…

Urutan ketiga diraih oleh Honda CRV. Meskipun ini mobil mahal tapi tetep aja hampir tiap 50 meter selalu ada mobil keren ini.

Di urutan kedua ada Toyota Avanza. Ini mobil kaya’nya untuk kalangan menengah, jadi lebih banyak yang ‘mampu’ beli.

Daaaan… jreng-jreng-jreng…

Mobil yang paaaaaling sering saya lihat adalah Toyota Kijang Innova. Wah ini mobil bener-bener disukai banyak orang. Kalo ada 10 mobil, mesti salah satuya innova. (halah lebay…)

Apa mungkin salah satunya karena saya emang suka Innova, karena kapasitasnya yang besar… hehe…

Kalo ditawarin pengen mobil apa, saya akan pilih innova abu-abu… :-P

Tapi mimpi kaleee… hehe… harganya buuu… Tapi kalo dikasih ya mau lah…(duh, mimpi lagi…)

Tapi kalo dikasih rejekinya cuma Fortuner ato Alphard ya saya mah bersyukur aja lah… (bangun wwwooooyyyyyy!!!!)

Tapi kalo diitung-itung, kayanya rodanya aja saya ga mampu beli… hehe… (lagian ngapain juga beli rodanya doang…?!)

Pengen sedikit cerita tentang masa kecil yang saya lewati di 4 kota berbeda.

Sungai liat, bangka, kota pertama saya. Tiga tahun pertama hidup saya habiskan disini. Mama bidan, belum kerja, sedangkan papa kerja di tambang timah. (mestinya saya juga bisa bikin cerita kaya Andrea Hirata ya… hehe… ayahnya kan juga kerja di tambang timah…)

Pas mama keterima kerja di salah satu rumah sakit (apa puskesmas ya? Lupa!) baru bilang ke papa bahwa mulai masuk hari senin, eh anak sulungnya ini langsung mencret beberapa hari. Pas mama memutuskan ga jadi masuk karena saya sakit. mencretnya langsung berhenti. Karena udah sembuh, mama bilang akan masuk lagi. Baru aja ngomong, si kecilnya ini sakit lagi… hehe… emang mamanya ga boleh kerja sih…

3 tahun di Bangka kami pindah ke Payakumbuh, Sumatera Barat, kampung halaman mama dan papa. Cuma setahun disana. Papa yang ternyata kemudian kerja di Sulawesi memutuskan kami -mama, saya dan adik saya- ikut kesana. Jadilah kami sekeluarga pindah ke kota kecil di pinggir sulawesi tenggara bernama Wosu.

Usia saya udah 4-5 tahun waktu kami disana. Cukup banyak yang saya ingat. Rumah sederhana yang dari halaman bisa langsung melihat laut. Sore hari menikmati sunset sambil jalan-jalan di pinggir pantai dengan pulang membawa oleh-oleh umang-umang yang besar (yang pagi harinya sudah kabur lewat bawah pintu). Di pantai yang hanya berjarak sekitar 50-100 meter dari rumah saya sering menyaksikan kapal yang datang dan pergi tidak setiap hari di pelabuhan alami (ga ada bangunan/dermaga). Ada gudang untuk meletakkan bambu-bambu sampai menggunung tinggi, yang saya sering naik sampai ke puncaknya. Sekolah TK saya (saya masih inget dijodoh-jodohin sama salah seorang anak laki-laki… MasyaAllah, masih TK dah begituan… ck…ck…ck…)

Yang paling diingat adalah saat mama dan papa memutuskan untuk pulang kembali ke Payakumbuh, karena SK PNS mama di salah satu rumah sakit di Bukittinggi sudah keluar. Jadi waktu itu, sebagaimana para pendatang yang kemudian pergi, penduduk desa selalu membantu.

Ada sebuah sungai yang tidak bisa dibilang besar (karena bisa dilalui dengan berjalan kaki menyeberanginya) tapi juga tidak kecil (karena lebarnya sekitar 20-30 meter). Menurut penduduk, tiap tahun sungai ini selalu menelan ‘korban’ pendatang. Dan belum ada korban untuk tahun ini. Semua cemas.

Pas hari-H, tibalah saat dimana harus menyeberangi sungai. Arusnya cukup deras, harus berjalan pelan-pelan kalo engga bisa hanyut. Sebenernya cukup dangkal, kira-kira sepinggang, paling dalam ya sedada orang dewasa. Saya dan adik saya sudah duluan diseberangkan oleh om-om tetangga yang baik. Tiba giliran mama dan papa. Jadi oleh orang-orang disarankan agar mama menyeberang digendong penduduk, tapi papa ngotot, biar mama menyeberang bareng papa. Pas nyampe tengah, papa tiba-tiba oleng, seperti tak bisa menahan arus yang kuat, apalagi sambil menggendong mama, mereka terseret arus sampai beberapa puluh meter. Orang-orang langsung panik dan berteriak-teriak, sebagian langsung berlari ke arah mereka berniat menolong. Saya terdiam tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba mereka terhenti, sepertinya papa menemukan pijakannya. Akhirnya papa dan mama bisa menyeberang dengan selamat, tentunya dengan basah kuyub… Tapi selamat… Alhamdulillah…

Kami sekeluargapun kembali ke padang dengan kapal laut dari sulawesi dengan perjalanan kira-kira seminggu. Masih inget, kalo dari kamar mau ke ruang makan, pasti jalannya oleng kiri-kanan (ya iyalah… secara kapal laut…hehe…) Bayangkan, seminggu! Bosen kali…. Tapi kaya’nya saya dulu enjoy-enjoy aja sih… (namanya anak kecil, mana inget… paling main mlulu…)

Di Payakumbuh saya melanjutkan TK di TK Pertiwi dan SD di SD Pius Payakumbuh. Cuma satu caturwulan, saya pindah ke Bukittinggi. Mama memang jadi PNS bidan di RSUP Bukittinggi, jadinya kami tinggal di sana sampai saya SMP.

Anakku sudah besar

Si kembarku sudah dua tahun tujuh bulan umurnya. Meski saya masih suka kesal sekali tiap mereka nangis yang hampir selalu diakhiri dengan muntah, tapi kemaren saya terkejut juga karena polahnya.

Pernah suatu kali Iffah –si sulung saya- sedang ngobrol sama saya di kamar sepulang saya dari kantor. Karena ingin ganti pakaian, dan kebetulan si dede yang sedang tidur di ayunannya sedang merengek, saya pun berinisiatif menyuruhnya untuk mengayun dan menidurkan dede Raisha yang baru 8 bulan itu.

“Eh, si dede bangun tuh sayang. Ayun dedenya gih!” kata saya.

Si kaka Iffah pun segera berlari menuju ayunan tempat dede tertidur dan langsung mengayunnya dengan lembut. Yang membuat saya tersenyum, karena saat mengayun, Iffah menyanyikan beberapa lagu untuk si dede agar segera tertidur, antara lain cicak-cicak di dinding dan balonku ada lima. Nyanyinya bukan bersenandung tapi dengan semangat… hehe… Tapi mujarab koq, si dede bobo lagi…

Tadi pagi Alif –kembar yang kedua- bangun duluan. Seperti biasa dengan tangisan merengeknya. Iffah baru saja bangun saat Alif sedang duduk manis di kursi tamu. Iffah yang masih mengantuk merengek juga, yang kemudian digendong abi dan di tidurkan di kursi dimana Alif duduk. Kepala Iffah yang berada tepat di sebelah Alif duduk di belai-belainya. Seperti saya/abi biasa membelai kepalanya kalo mau tidur.

Hhhhh… si kembar saya ternyata sudah besar…

(beberapa diantara keterkejutan saya -setelah hafalnya Iffah atas lagu-lagu yang lagi ngetrend yang dia ikut menyanyikannya saat mendengarnya di TV… ah…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.