Titik Balik

Buatku saat itu adalah sebuah titik balik.

Malam itu, sudah malam kedua Iffah panas. Aku ngga terlalu mengganggap hal itu serius karena siangnya Iffah udah main lagi. Kadang Iffah -juga Alif- suka panas tapi segera turun besoknya, jadi aku anggap itu hal yang biasa. Waktu itu, sepulang dari kantor, Iffah lagi di gendong sama neneknya (ibu mertuaku). Katanya Iffah panas. Malamnya Iffah tidur denganku, sedangkan Alif tidur sama neneknya.

Badannya memang panas sekali. Ngga mau ditaruh, maunya digendong terus. Aku ingat pernah baca bahwa salah satu cara uintuk mengurangi panas badan anak adalah dengan menempelkan kulitnya ke kulit kita (ibu) sehingga panasnya pindah ke tubuh kita. Maka malam itu beberapa kali kulakukan jika Iffah sedang kugendong. Badannya panas sekali…. tapi aku tidak begitu kuatir, hanya berharap panasnya segera turun (karena sekitar jam 8 malam itu sudah diberi minum obat penurun panas). Sekitar jam 4 lewat, aku merasa capek dan Iffah digendong abinya. Aku mencoba untuk tiduran sebentar. Sampai kulihat tiba-tiba Iffah kejang-kejang.

Ya Allah… Langsung aku berdiri, mengambil Iffah dari gendongan abinya…

Entahlah… Aku tak tahu harus bagaimana. Yang jelas waktu itu aku panik sekali. Kugendong Iffah sambil menangis, tak tau harus berbuat apa.

Berkali-kali aku bisikkan ke telinganya,”Astaghfirullah… Sayang… Iffah…” Perasaan bersalah yang begitu dalam, merasa ini semua kesalahanku. Wajah Iffah yang sedang tak sadar begitu terpatri dalam pikiranku.

Tak lama, kejangnya berhenti, tapi sepertinya Iffah masih belum sadar. Kupanggil-panggil namanya, tapi ia tetap membisu. Aku tak tahu harus bagaimana. Ku telpon mama di Payakumbuh. Bawa ke rumah sakit, katanya (kebetulan mama seorang bidan). Segera kuganti baju, masukkan ke tas apa2 yang kira-kira perlu, abi langsung ngeluarin mobil. Pagi itu, jam setengah 5 pagi aku langsung bawa Iffah ke RS terdekat.

Sepanjang perjalanan, kupanggil terus nama Iffah. Dia hanya diam, tak menyahut, juga tidak menangis… Aku bingung sekali.

Rumah sakit sudah dekat akhirnya Iffah merengek, menangis tapi tidak keras. Kupanggil namanya, ia melihat ke mataku. Waktu itu hatiku lega bukan main. Iffah juga melihat ke abinya waktu abinya yang lagi nyetir manggil namanya. Alhamdulillah ya Allah…

Sampai di pintu ICU sebuah rumah sakit swasta, aku berlari masuk sambil menggendong Iffah yang terkulai lemas di bahuku. Perawatnya langsung menanyakan kenapa dan memanggil dokter jaga yang berada di dalam. Setelah Iffah ditimbang dan dipasang oksigen, Iffah lalu diberi obat anti kejang (yang dimasukkan lewat anus). Ia tetap tak mau ditaruh. Selama di ruang ICU, ia kugendong terus sampai ia tertidur (kata dokter, obatnya memang bikin ngantuk)

Sementara abi pergi mengurus administrasi dan keperluan lainnya, aku pun bertanya ke dokter tentang keadaan Iffah. Kenapa, bagaimana, apa yang harus dilakukan kalo terjadi lagi, dan lain-lain. Tak lama abi kembali dengan membawa kabar kurang baik. Ruangan penuh. Iffah harus dibawa ke rumah sakit lain. Segera, mobilpun meluncur ke sebuah rumah sakit pemerintah dengan berharap semoga saja masih ada kamar untuk Iffah. (Karena ini kejang yang pertama kali untuk Iffah maka dokternya merekomendasikan untuk rawat inap dulu.)

Alhamdulillah, ada kamar untuk Iffah. Di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, Iffah diberi infus, diambil darahnya, dan di rontgent. Tetap tidak mau ditidurkan. Akhirnya digendong terus dengan aku duduk di lantai (karena botol infus harus tinggi, kalo duduk di kursi darahnya keluar lewat selang infus dan cairan infus tidak bisa masuk ke darah.) Pagi itu, sekitar pukul tujuh, aku -dengan Iffah tidur di bahuku- diantar ke ruangan rawat inap menggunakan kursi roda. Di kamar, barulah Iffah mau ditidurkan.

Peristiwa itu kuanggap sebuah teguran dari Allah buatku. Wajahnya yang tak sadar tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Meskipun perut besar (karena hamil 6 bulan) kalo Iffah pengen digendong, selalu kugendong Iffah kemanapun pergi. Serewel apapun dia, secapek apapun badan ini, semua kuhadapi dengan sabar. Benar-benar tak lagi mampu untuk ‘sekedar’ ngomel apalagi marah. Yang ada hanya perasaan bersalah yang begitu mendalam… Ya Allah… 

Alhamdulillah, hanya 4 hari di rumah sakit, Iffah sudah diijinkan pulang. Dokter juga tidak ‘titip pesan’ apa-apa, kecuali selalu siapin obat anti kejang di rumah karena kemungkinan kejangnya akan berulang sampai usia 5 tahun (artinya Iffah benar-benar ‘hanya’ kejang demam, tanpa penyakit lain, benar-benar hanya karena demam yang terlalu tinggi. Alhamdulillah…)

Sejak peritiwa itu, mungkin juga dengan bertambahnya usia kehamilan yang berarti semakin stabilnya emosi, aku tak pernah lagi memarahi Iffah juga Alif. Selalu sabar dengan kerewelannya… (ah, dia hanya minta perhatianku…) secapek apapun badan ini…

Iffah… Alif… Maafin ummi ya nak…

Ya Allah, ampuni aku… terimakasih telah menegurku…

(Allahummaghfirlii waliwaalidayya kama rabbayani shaghiiraa… Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Itu doa untuk orang tua yang diajarkan pada kita, juga anak-anak kita. Aku takut, seandainya Allah benar-benar menyayangiku sebagaimana aku menyayangi anak-anakku di waktu kecil, bagaimana jadinya nasibku kelak… Sedangkan sayangku kepada anak-anakku cuma sebatas itu…

Ampuni aku ya Allah… Engkau Maha Penyayang… Sayangilah kedua orangtuaku melebihi kasih sayang mereka diwaktu kecilku…)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s