Selamat Jalan Mba Bunga…

Pukul 3 dini hari telpon genggamku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Siapa sih ng-sms jam segini? Mau ngebangunin tahajjud koq pake sms… Iseng banget sih… Penasaran, kuraih juga HP yang sengaja kutaruh persis di sebelah bantalku.

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un..” Begitu bunyi kalimat teratasnya. Jantungku berdetak kencang. Siapa yang meninggal? Kubaca baris selanjutnya…

“…Telah berpulang ke Rahmatullah kakak kita tercinta, mba Bunga Prihanande. Mohon dibukakan pintu maaf dan mendoakannya agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.”

Innalillah… Tubuhku langsung lemas. Kaget, bingung, sedih, entah apalagi perasaan saat itu. Kenapa orang baik selalu cepat berlalu… Rabb-nya tak tahan berpisah lama-lama darinya… Ah, mba Bunga…

Teringat perjumpaan pertama kami, biasa saja, tidak ada yang istimewa. Menjadi penghuni baru di kost-anku dengan posisi kamar persis di depan kamarku. Hingga suatu hari (aku selalu bersyukur jika ingat peristiwa ini) kami bertengkar hebat. Tidak ada teriakan, bentakan, atau saling hujat, hanya muka masam dan bantingan pintu, tapi membuat hati ini sediiih sekali. Aku tak tahu harus berbuat apa. Padahal hanya kesalahpahaman biasa, yang masing-masing merasa ngga salah. Setelah beberapa hari tak bertegur sapa (serasa dunia sempit menghimpit) akhirnya kuberanikan diri meminta maaf kepadanya. Masih terbayang jelas dalam ingatanku bagaimana aku menghampirinya yang sedang menonton TV sendirian, tanpa basa basi langsung minta maaf (dengan suara lemah bersiap menerima marahnya atau apapun yang akan terjadi), dan beliau –tanpa menoleh sedikitpun, pandangan tetap ke layar TV- berkata,”Ngga apa2…” Aku lupa lanjutannya. Dengan lunglai aku kembali ke kamar, sepertinya usahaku gagal… Kemudian akupun melanjutkan beres-beres kamar. Sekejap kemudian (aku ingat sekali tak sampai 5 menit dari dialog barusan) tiba-tiba –dengan wajah cerianya yang biasa- menghampiriku ke kamar dan bilang,”Nin, mau lemariku ngga? Aku mau pindah nih, males bawa yang berat-berat.” Alhamudlillah…

Begitulah uniknya beliau. Sejak itu aku jadi deket sama mba Unga (panggilan sayang untuk beliau), sampe suatu hari datang khusus ke kamarku ngajakin ngekost bareng di Pondok Jaya. Jadilah kami satu kost lagi, dan ajakan inilah yang akhirnya menjadi jembatan keikutsertaanku dalam da’wah Pondok Jaya, kampus, dan tarbiyah sampai sekarang.

Mba Bunga. Sifatnya yang supel dan namanya yang indah –mudah diingat- membuat banyak orang kenal dirinya. Dia bahkan lebih terkenal dibanding anak STAN manapun saat itu, padahal dia sendiri bukan mahasiswa atau alumni STAN. Kakaknya lah yang anak STAN, meskipun akhirnya eksodus (kemudian bekerja di salah satu perusahaan internasional). Mba Bunga sendiri juga sempat beberapa kali menjadi guru privat untuk anak Duta Besar … (aku lupa negara apa aja).

Tapi yang paling dikenang dari sosoknya, selain keramahan dan senyuman yang manis, adalah kepiawaiannya dalam mengolah masakan (karena memang pernah mendapat pendidikan di bidang Tata Boga). Jadinya hampir setiap kajian, rapat, pertemuan-pertemuan, juga kalo jalan-jalan, selalu dimasakin dan dijamin ngga bakalan mengecewakan. Yummy deh pokoknya… (yang pernah nyobain masakannya ga bakalan lupa, terutama ikhwan-akhwat penghuni kompleks Pondok Jaya. Pernah dalam sebuah kajian yang kami beri nama “Liqo Ukhuwah” kajian setiap malam Rabu, gabung ikhwan-akhwat, setelah dimasakin mba Unga semua makanan dibawa ke masjid Uswatun Hasanah oleh beberapa orang ikhwan. Sampai acara selesai, akhwat ga kebagian bahkan satu biji makanan pun! MasyaAllah… padahal kita yang masak… Mana tadi ga sempet nyicip lagi… hehe…)

Beliau juga yang pusing tujuh keliling mikirin rumah yang bisa dijadikan basecamp akhwat Pondok Jaya, Ngurus sana sini sampe nalangin dulu uang kontrakan demi keberlangsungan da’wah akhwat –khususnya- di kompleks Pondok Jaya. Terakhir ku dengar da’wah di sana mandeg, ga ada lagi markas akhwat. Wallahu a’lam…

Masih ku ingat betapa marahnya dia saat berita tentang akan menikahnya aku didengar dari mulut orang lain, bukan dari mulutku sendiri. Ah… Maafkan aku mba…

Juga masih kuingat betapa kagetnya aku saat membaca namanya tercantum sebagai istri seorang penulis muda berbakat di majalah Annida (tidak mungkin ada 2 Bunga Prihanande di dunia ini kan?!) Subhanallah…

Memang sejak berpisah saat lulus kuliah, komunikasi kami jadi terputus. Saat aku pindah ke Gorontalo, pun saat kembali ke Jakarta, tak sempat memberi kabar. Seringkali ingin silaturahim ke rumahnya yang di Graha Bunga Bintaro, tapi tetap tak sempat bertemu muka, bahkan untuk say hello via telpon. Ah…

Sampai akhirnya berita duka itu kuterima. Tak lagi sempat melihat wajah cantiknya untuk yang terakhir kalinya. Kata seorang teman yang kutanya penyebab kematiannya, karena mba Unga sudah 2 kali hamil di luar kandungan, yang ternyata menyebabkan gangguan di otak. Hari itu dilaksanakan operasi yang menjadi saat terakhirnya di dunia ini. Ingin ku susul ke Rumah Sakit Internasional Bintaro tempat beliau dioperasi, tapi kata temanku jenazahnya sudah dalam perjalanan ke Padeglang, kampung halamannya.

Teriring doa untuk mba Unga tersayang, Semoga mba Unga mendapatkan kebahagiaan di sisi Rabb-nya, diampuni dosanya, diterima amalan-amalannya, mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Aamiiin…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s