Entahlah…

Barusan membaca sebuah tulisan Oase Iman – Era Muslim.com berjudul “Nyanyian Sore” dari Yunny Touresia, seorang ibu dari Sangatta, Kalimantan. Menceritakan tentang pengalamannya bertandang ke ibukota Jakarta bersama dua orang teman. Naik angkot ibu kota untuk yang pertama kalinya, kemudian bertemu dengan pengamen cilik yang kemudian membuatnya sedih.

“… Belum pernah saya menjumpai ada pengamen kecil seperti mereka di Sengata. Hanya beberapa dewasa bergitar yang bernyanyi di wilayah Town Hall, tempat sentra jajanan satu-satunya di Sengata. Itupun hadirnya hanya pada hari – hari tertentu, biasanya malam minggu atau hari libur lainnya.

Ada gores pilu dalam hati, ketika melihat sosok kecil seperti mereka harus turut berlari mencari rezeki. Apalagi dengan penampilan yang menurut saya, sungguh tidak pantas untuk ukuran mereka. Inikah yang dinamakan kehidupan kejam ibukota? Ketika untuk mencari rezeki sudah tidak ada lagi batasan usia. …”

Begitu sepenggal kalimat dari tulisan panjangnya.

Entahlah… Sudah 8 tahun sejak saya menginjakkan kaki di ibukota. Begitu sering melihat pemandangan yang entahlah… saya ngga tau harus berkata apa. Saya bahkan pernah melihat yang lebih parah dan lebih kejam. Anak umur 5 tahun dengan kaki buntung merangkak di sepanjang lantai metro mini yang saat turun di gendong oleh orang lain (mungkin ibunya). Bayi umur sekian bulan diajak serta meminta-minta oleh ibunya (atau yang berperan sebagai ibunya) bahkan pernah oleh kakanya yang berumur tidak sampai 10 tahun. Kakek-kakek buta dituntun anaknya. Pemuda dengan kaki yang lukanya menganga besar meminta belas kasihan yang katanya untuk mengobati kakinya.

Entahlah…

Seandainya mba Yunny Touresia hidup di Jakarta, mungkin blognya akan penuh dengan tulisan-tulisan penuh kesedihan. Mungkin juga mba Yunny ngga pernah bisa makan enak lagi…

Entahlah…

“… Saya dan kedua sahabat akhirnya tiba di tempat tujuan. Menikmati sore sambil menyantap mie Aceh yang rasanya sangat istimewa. Entah mengapa, saya tetap saja merasa ada yang kurang. Masih ada pilu di sudut hati ketika bayangan sosok kecil yang saya jumpai dalam angkot tadi perlahan berkelebat. Saya bermohon padaNya, semoga suatu hari nanti, ada nyanyian indah yang dapat mereka lantunkan tanpa harus berkeliaran di jalanan seperti sore ini. Amiin.”

[Amin…]

One Comment Add yours

  1. yunny79 says:

    Assallamu’Alaikum…
    Apa kabar mba? Senangnya saya bisa mampir di sini.

    Btw, tulisan mba bagus2 ya.
    Saya juga suka menulis, dan saya rasakan betul, aktivitas menulis, sungguh membuat mata dan hati saya lebih merasakan sekitar. Tulisan saya tentang pengamen cilik itu contohnya. Satu kenangan ketika suatu kali saya mampir ke ibukota tanpa suami dan anak-anak tercinta karena ‘tugas negara’.

    seandainya saya tinggal di jkt? wah…gak mau berandai – andai deh, bisa jadi bener tuh yg mb tulis, sy jd gak enak hati g enak makan…😉

    Jzkh atas apresiasinya. Senang bisa berkenalan.

    Afwan.
    Wassallamu’Alaikum

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s