Anak perempuanku…

Sore ini, di toilet lantai 4…

“Sini.. sini… jangan gerak-gerak!” seorang gadis berpakaian seragam SMA memegang maskara berhadapan dengan temannya yang dengan pasrah menyerahkan matanya untuk di ‘poles’.

“Ati-ati…” sahutnya.

“Makanya kamu beli dong!” kata temennya satu lagi yang juga sedang bercermin ‘merapikan’ diri (alias dandan, yang ini dah ahli keliatannya)

[Dengan cermin sepenuh dinding memang puas kalo dandan di toilet]

Pikiran saya langsung terbang ke tiga bidadari kecilku di rumah, terutama si kembar…

Ah, mereka memang baru dua tahun lebih, tapi…

Saya memang jarang (hampir ga pernah) dandan, tapi saat oma/neneknya dandan (make lipstik) selalu diliatin dengan seksama. Pernah suatu hari omanya kelupaan masukin lipstik ke kotaknya. Begitu perlu, nyari-nyari, tiba-tiba liat ada yang merah-merah, tau-tau ketemu lipstiknya udah patah dua. Dengan bibir merah-merah tak keruan, si kembar dengan bangga ngeliatin ‘hasil karya’nya ke omanya. (soalnya tiap kali minta “mmm…mmm…” sambil nunjuk-nunjuk bibirnya -biar dipakein juga, ga pernah dikasih)

Kali yang lain, pulang kantor seperti biasa disambut dengan teriakannya si kembar,”Aaaaabiiiiiiii…. Umi nana (umi mana?)”

“Tuh!” abi nunjuk saya yang lagi nutup pagar.

“Ummmiiiiiiiiiii….” Si kembar lari dan memeluk saya. Bibirnya merah-merah. Tak tanggung-tanggung, kuku tangan juga kakinya juga merah-merah berantakan. Setelah masuk rumah baru ketahuan yang dipake buat moles bibir dan kukunya, SPIDOL MERAH yang saya belikan untuk menggambar… Masya Allah…

[ah… anak umi udah gede]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s