Petualangan bermula

Saya lulus kuliah Diploma 4 STAN akhir Desember 2011. Di instansi tempat saya bekerja ada aturan bahwa seorang pegawai baru diberikan ijin untuk melanjutkan pendidikan setelah 2 tahun lulus dari jenjang pendidikan sebelumnya. Maka dari itu sejak awal 2014, teman-teman seangkatan saya mulai sibuk membicarakan tentang masalah ini. Mereka semangat sekali membincangkan rencana mereka untuk lanjut pendidikan master baik di dalam maupun luar negeri. Mau tak mau saya juga ikutan bersemangat 🙂

Februari 2014

Penawaran beasiswa dari dua pemberi beasiswa muncul di halaman sistem informasi kepegawaian kami. Pertama dari pemerintah Australia, dan yang kedua beasiswa SPIRIT (Scholarship Program for Strengthening the Reforming Institution). Teman-teman seangkatan sibuk membincangkan beasiswa dari World Bank ini. Dia menjadi incaran karena beasiswa ini memberikan kesempatan kepada pegawai instansi saya untuk melanjutkan kuliah di kampus di belahan dunia mana saja yang kami impikan sepanjang masih dalam 200 besar dunia. Berbeda dengan beasiswa dari pemerintah Australia atau Jepang -misalnya- dimana kita ga punya pilihan untuk memilih kampus selain di negara bersangkutan. Makanya banyak pegawai yang tertarik untuk mencoba mengadu nasib terutama yang sudah lama memimpikan ingin kuliah di benua Eropa atau Amerika, termasuk saya. Alasan lain sih sebenarnya karena beasiswa ini tidak mensyaratkan skor TOEFL (yang mana banyak dari kami yang belum sempat ikut tes hehehe). Saya pun memberanikan diri memasukkan berkas yang lumayan banyak sebagai persyaratan mengikuti kompetisi mengejar beasiswa ini.

header

April 2014

Pengumuman seleksi berkas keluar dan jadwal tes tertulis pun menyusul. Tes tertulis terdiri dari TPA (tes potensi akademik), TOEFL test, dan psikotest. Menurut info dari banyak teman, banyak dari mereka yang berhasil lulus dari TPA setelah mengikuti sebuah kursus sehari di bilangan Lebak Bulus. Saya (ditemani suami) pun ikut kursus dan memang benar, otak yang sudah lama beku ga pernah ngerjain soal-soal matematika lumayan cair setelah ikut kursus ini. Pematerinya juga tak hanya mengajarkan cara cepat mengerjakan soal-soal matematikanya, tips dan trik mengerjakan psikotes dan wawancara pun tak ketinggalan di-share ke 70-an peserta yang hadir ketika itu. Dan yang lebih menarik lagi, kursus ini juga memberikan prediksi skor TPA kita (semacam try-out gitu) yang kemudian menaikkan pede saya soalnya skor saya lumayan bagus ketika itu hehehe…

Pulang tes dengan tampang kuyu karena merasa soal-soalnya susah banget, tak membuat saya putus asa. Tes TPA tak sesuai ekspektasi (soal-soalnya ternyata jauh lebih susah dari yang saya duga), speaker untuk tes TOEFL yang tidak kedengaran (pasrah deh untuk tes ini, ga bisa dengar sama sekali untuk bagian listening), dan psikotes yang tidak bisa ditebak hasilnya. Terus berdoa saja. Lagipula ini baru percobaan pertama, banyak teman yang sudah berkali-kali mencoba namun belum juga sukses.

Juni 2014

Pengumuman hasil tes tertulis muncul dan alhamdulillah nama saya ada di salah satu dari daftar pegawai yang dipanggil untuk tes wawancara. Ekspektasi saya tak setinggi itu sebenarnya tapi itulah yang terjadi. Antara surprise dan tegang juga. Dua minggu kemudian saya sibuk dengan hunting pertanyaan-pertanyaan wawancara dari internet, dari teman, semuanya deh.

Akhirnya hari yang menegangkan itupun tiba. Meski anxious, saya mencoba setenang mungkin dan menjawab semua pertanyaan dengan sebaik-baiknya. Interview dilakukan oleh tiga orang Eselon 2 di institusi saya dan ditangan mereka jalan hidup saya akan berubah.

Pertengahan Juni 2014 pengumuman hasil tes terakhir ini pun keluar. Alhamdulillah wa Allahu akbar, nama saya ada bersama 45 orang yang berhasil mendapatkan beasiswa ini. Langkah besar dalam hidup saya pun dimulai…

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. abisena13 says:

    Keren Mbak ceritanya, saya masih 15 tahun tapi sudah sangat berminat belajar dan tinggal di luar negeri apalagi Australia. Tolong doakan saya semoga suatu saat saya bisa. Aamiin

  2. ummu shofi says:

    Aaamiiiin ya Rabbal’alamiin…

    Wah, hebat mas Abisena, masih 15 tahun tapi udah punya cita-cita kuliah di luar negeri 🙂
    Saya 15 tahun masih main-main belum kepikiran nanti mau gimana hehehe…

    Belajar dan terus cari info mas Abisena. Jika itu baik untuk kita insyaAllah akan dimudahkan jalannya oleh Allah…
    Semoga sukses mas 🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s