Perjalanan menuju Inggris (my 1st international travel)

Jumat siang, 25 September 2015
Saya masih sibuk dengan bongkar-susun-bongkar-susun koper. Ada aja yang rasanya belum dimasukkan, ada juga yang -ketika dilihat-lihat lagi- harusnya ga perlu-perlu amat untuk dibawa nyebrang lautan. (tentunya karena kapasitas koper yang terbatas. Maskapai hanya mengizinkan berat maksimal untuk bagasi hanya 30 kg). Selain itu, juga baru sadar kalo belum print tiket. Akhirnya siang-siang itu terpaksa keluar lagi untuk print tiket dan beli gembok.
Sore, di rumah udah ngumpul adik-adik saya, ibu mertua, adik ipar, dan ponakan-ponakan. Jam 7 malam itu saya pun pamit ke semuanya. Pamitan, selalu jadi momen yang paling mengharukan. Terutama ke my little Shofi yang… (ah, kalo inget itu saya jadi pengen nangis lagi…)
So, jam 7 lewat taksi datang. Saya say goodbye ke semuanya dan malam itu diantar suami dan ibu mertua, saya berangkat ke bandara.
Jumat malam
Belum jam 9 dan kami sudah sampai Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, tempat keberangkatan saya. Saya dan teman-teman naik Emirates, maskapai milik Uni Emirat Arab, yang transit di Dubai (berharap bisa melihat sekilas kota Dubai yang fantastik, meski harus kecewa ga bisa lihat apa-apa dari bandaranya hehehe).
ย photogrid_1443295804466Saya langsung kontak 2 orang rekan yang barengan berangkat ke York, Iskandar (alias Babeh) dan Nugie. Mereka tiba tak lama kemudian. Kami lalu memutuskan untuk check-in dulu (ngasih koper utk bagasi) dan dapat boarding-pass, baru kemudian keluar lagi untuk pamitan.

Sekitar pukul 10-an, akhirnya saya pamit ke suami dan ibu mertua. Masuk lagi ke Gate 1, dan memulai perjalanan bersama rekan seperjuangan.

(Mulai dari sini, akan sangat baik kalo passport dan boarding pass dipegang saja hingga ke ruang tunggu. Ga perlu dimasukkan ke tas.)
Oke, pertama, ngasih koper buat bagasi dan dapet boarding pass.
Selanjutnya, loket imigrasi. Seharusnya sebentar saja jika saya ga masukin passport dan boarding-pass ke tas -_-“
Kemudian passport akan dicap sama petugas imigrasi.
Next, jalan lumayan jauh ke Gate B-4 (kalo ga salah). Sebelum masuk Gate, petugas akan meminta lagi passport dan boarding pass. Disini juga saya merasa bodoh karena bawa aqua 2 botol yang akhirnya harus disita petugas karena memang tidak diperbolehkan dibawa ke dalam pesawat.
Jadwal keberangkatan pesawat adalah pukul 00.40 WIB. Sekitar pukul 12 tengah malam, para penumpang sudah diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Nah, disini tak perlu siapin passport lagi, cukup boarding-pass-nya aja. Ketika masuk ke pintu pesawat, pramugari akan menanyakan kursi (kita harus menunjukkan boarding-pass) agar dia bisa mengarahkan kita harus lewat ke sebelah mana.
Pesawat Emirates yang saya naiki lumayan besar. Satu deret ada 7 kursi (ABC-DEFG-HJK). Masing-masing 3 kursi dekat jendela dan 4 kursi tengah. Saya dapet kursi F. Agak kecewa sebenernya karena pengennya di deket jendela, tapi untungnya bangku sebelah saya (G) kosong, jadi saya ‘menguasai’ 2 kursi.
Ukuran kursi relatif hampir sama dengan maskapai nasional. Di masing-masing kursi sudah tersedia headset, selimut dan bantal kecil. Di depan masing-masing kursi (ditempel di punggung kursi depan) ada tv dengan ribuan channel plus game.

Biasanya sih favorit penumpang (saya maksudnya ๐Ÿ˜€ ) adalah channel film. Tinggal pilih banyak film terbaru, film seri, film anak-anak, film lama juga ada, dari hollywood, bollywood, film-film timur tengah atau eropa juga ada.

Selain itu, ada info tentang perjalanan juga. Di channel informasi tersedia semua info yang kira-kira dibutuhkan penumpang, seperti ketinggian pesawat, jarak tempuh, waktu tempuh, hingga temperatur. Kita juga bisa memilih view/penampakan sisi mana yang ingin kita lihat selama perjalanan. Di bagian-bagian tertentu di luar pesawat dipasang kamera sehingga penumpang bisa melihat langsung kondisinya. Ada yg dipasang tepat dihidung depan pesawat, di roda depan (untuk melihat pemandangan di bawah pesawat), dan di ekor pesawat. Kita bisa memilih view mana yang kita suka. (Ketika take-off dan landing saya lebih suka lihat channel ini. Setelah itu baru nonton film).

Jika ada pengumuman oleh pilot atau pramugari, layar akan langsung freeze.
Terakhir kali naik pesawat nasional, sebelum pesawat take-off, pramugari akan memeragakan hal-hal terkait keselamatan dalam pesawat. Kali ini, pramugari tinggal berdiri dengan manis di tempatnya masing-masing, dan hal-hal yang perlu diketahui penumpang cukup ditampilkan di layar depan kursi masing-masing. Lebih visual dan informatif (kalo kata saya hehehe).
Ketika pesawat sudah take-off dan pesawat sudah stabil lagi, biasanya pramugari akan membagikan handuk kecil basah. Mereka akan memberikannya 2 kali, setelah take-off dan sebelum landing. Untuk perjalanan Jakarta-Dubai handuk basahnya hangat. Saya menggunakan untuk membasuh wajah, leher, dan tangan. Tak lama pramugari akan mengambil lagi handuk tersebut, jadi jika sudah menggunakan pegang saja atau taruh di tempat yang mudah diambil (jangan dibuang atau disimpan ya ๐Ÿ˜€ )
Untuk penerbangan selama 7 jam, saya mendapatkan 2 kali makan. Biasanya akan lengkap, mulai dari appetizers, main course, dan desert, termasuk minuman. Selain itu mereka juga akan menawarkan minuman tambahan berupa teh, kopi, jus, atau air mineral. Ohya, sebelum membagikan makanan, mereka juga membagikan daftar menu yang akan dihidangkan. Hanya bersifat pemberitahuan (jangan bayangkan bisa milih kek di resto ya hehehe…)
Suhu udara selama dipesawat sangat dingin. Meski udah pake pakaian tebal dan jaket, tetep aja kedinginan. Selimut ga terlalu banyak membantu. Makanya saya ga bisa tidur selama perjalanan, meski sudah mencoba beberapa kali. Jadi, mending siapin jaket tebal, kaos kaki tebal, sarung tangan juga boleh. Ohya, bantal kepala juga sangat dianjurkan karena perjalanannya total 18 jam, jadi bawa bantal kepala worthed banget lah (saya ga bawa karena mikirnya ribet dan cuma dipake sebentar. The fact is 18 jam itu ga sebentar sodara-sodara ๐Ÿ˜€ )

Sesaat sebelum landing, pramugari (as I said before) membagikan lagi handuk kecil basah hangat ke semua penumpang (ini tanda juga bahwa pesawat dah mau nyampe). Setelah itu, pramugari mulai ngingetin untuk menegakkan sandaran kursi, ngumpulin sampah-sampah, dan lain-lain. Saya lalu mengganti tampilan tv di depan saya dengan tampilan informasi pesawat.

Maka mendaratlah saya di Dubai. Turun melalui pintu belakang pesawat, di bawah tangga sudah menunggu bus tanpa kursi yang akan mengantar penumpang ke terminal.

Bandara Dubai gede banget. Bus yang mengantar kami melewati bagian pinggir bandara. Saya berharap dapat melihat gedung-gedung yang tinggi dan mewah kebanggaan Dubai seperti gambar di bawah ini, tapi apa daya ga bisa liat apa-apa ๐Ÿ˜€

Ada sekitar 10-15 menit bus berjalan mengantar kami ke terminal. Turun dari bus, masuk ke terminal, ada layar besar yang berisi info penerbangan, di gate mana kami harus menunggu untuk penerbangan selanjutnya (ke Manchester). Kami pun mencari gate B21.

Ada 50-an gate hanya untuk kode B (B1 hingga B50). Ada A, C, D juga, saya ga perhatiin sampe huruf apa. Ya… semoga bisa menggambarkan betapa besarnya bandara Dubai ini… ๐Ÿ˜€
Ga terlalu susah nyari gate-nya. Sign board dengan tanda panah ada dimana-mana.
Ohya,ย ga usah bingung ya kalo nemu toiletย atau keran air yang ga ada tuas atau tombol atau puterannya. Banyak keran yang nyala sendiri ketika kita meletakkan tangan di bawahnya atau toilet yang menyiram sendiri. Mereka menggunakan sensor ๐Ÿ˜€
Begitu menemukan ruang tunggu, kami pun duduk. Saya berusaha menghubungi suami dan keluarga di Jakarta untuk mengabarkan kalo saya sudah sampai di Dubai. Meski udah ngisi pulsa 200rb lebih, tapi cuma bisa dipake nelpon beberapa menit, trus pulsa abis ๐Ÿ˜€
Teman-teman saya mencoba melakukan setting ini-itu untuk panggilan internasional, tapi saya ga cukup sabar untuk itu. Biarin deh abis pulsa, yang penting orang rumah dah tenang saya dah nyampe… hehehe…
Next, speaker mulai mengumumkan section-section mana aja yang dipanggil untuk naik pesawat terlebih dahulu. Dan section saya dipanggil terakhir (entah karena kami ga denger waktu dipanggil, atau memang belum… ga tau hehehe). Jangan khawatir bakalan ditinggal karena ga dipanggil, karena panggilan terakhir adalah untuk ‘sapu bersih’. Ya buat yang tadi ga denger atau telat dateng hahaha…
Naik pesawat, nyari tempat duduk, seperti penerbangan sebelumnya di tempat duduk sudah disediakan bantal kecil, selimut dan headset. Tak lama pesawat pun take-off.
Cerita perjalanan hampir sama seperti yang sebelumnya. Setelah take-off pramugari membagikan handuk kecil basah dingin (kali ini dingin karena suhu diluar ketika itu panas). Makan dua kali (kali ini saya nyobain menu mediteranian, salah satunya salad yang berisi buah zaitun yang bentuknya seperti anggur tapi rasanya asem pahit kecut ga jelas hehehe, keju warna oren yang ga berani saya coba, termasuk mayones yang dari baunya juga saya ga berani nyoba hahaha). Ada juga crackers dengan sambel (yang ketika saya coba asem bukan main) dan cokelat (yang ga saya makan, cuman dimasukin ke saku buat dimakan nanti). Ditawarin teh (saya minta tanpa susu, hanya gula) yang ternyata rasanya pahit banget (jauh lebih enak teh celup Indonesia lah pokoknya -apalagi teh tubruk hehehe).
Mencoba tidur meski ga bisa (entah karena dingin atau posisi duduk yang kurang nyaman). Sekali lagi saya sangat merekomendasikan pake baju hangat double dan bantal duduk (yang bentuknya ‘U’ dipake di leher).
Alhamdulillah, meski jadwal penerbangan baru akan sampai 11.55 waktu setempat, kami sudah landing pukul 11.45.
Bandara Manchester tak sebesar Dubai tentunya. Bahkan sangat kecil, jika dibanding Dubai atau Soetta. Meski begitu, jalan turun dari pesawat hingga masuk ke terminal cukup jauh juga.
Ohya, ada form yang diberikan pramugari menjelang turun pesawat yang harus diisi. Meski ternyata ketika hendak masuk ke bagian imigrasi form ini disediakan lagi. Form ini berisi data diri yang nanti diberikan kepada petugas imigrasi.
Antrian di bagian imigrasi puanjang buanget, antrian khusus students. Kami disuruh nyiapin form yang tadi disuruh isi, passport, dan CAS (tertulis juga di banner yang ada di tempat itu). Ketika tiba waktunya menuju loket, si petugas hanya meminta saya menempelkan ibu jari dan jari telunjuk di alat perekam untuk mengambil sidik jari saya, and done. Beberapa orang sempet diajak ngobrol dulu (baca: diinterogasi alias ditanya-tanya) sama petugas, seperti mau kemana, ngapain, ambil program apa, berapa lama, de el el.
Selanjutnya tentunya ngambil koper bagasi. Ga terlalu lama, koper ungu saya pun lewat. Kami bertiga pun beranjak keluar.
Seperti yang sudah diperkirakan, di luar sudah ada tim penjemputan dari University of York, para panitia dengan baju kaos berwarna kuning terang. Karena kami sudah booking penjemputan via web kampus, kami tinggal setor nama dan mereka tinggal cocokkan dengan list nama yang mereka pegang. Kami pun dipandu oleh salah seorang panitia ke sebuah tempat di salah satu sudut bandara tempat panitia lain sudah menunggu. Disediakan minuman dan permen/cokelat, juga kertas stiker berwarna yang ditempel di koper untuk memudahkan pengambilan koper nantinya.
Sekitar pukul 3 sore waktu setempat saya naik bus yang sudah disediakan panitia. Sempat foto di depan bandara selagi menunggu.
(tulisan ini di-copy-paste dari blog saya yang satunya lagi)
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s