Membaca saja saya sulit

Baiklah, sekarang saya ingin sedikit bercerita gimana rasanya kuliah di luar negeri, terutama bagian membaca dan menulis, dua hal yang tak dapat dipisahkan dari yang namanya kuliah. Mungkin banyak yang bertanya, susah ga sih kuliah di luar negeri yang tentunya punya bahasa yang berbeda? Nah, berikut adalah testimoni saya.

Sebagai background, saya pengen ngasih tau dulu nilai tes bahasa Inggris saya. Saya ikut dua tes, TOEFL IBT dan IELTS. Nilai saya juga ga jelek-jelek amat, 95 untuk TOEFL IBT dan 7 untuk IELTS. Yang penting cukup untuk daftar kuliah di luar negeri. Dengan skor test segitu, saya punya peluang cukup besar untuk mendaftar di universitas mana saja karena sebagian besar program (kecuali untuk program-program tertentu seperti MBA atau Law -misalnya) ‘hanya’ mensyaratkan skor 79 untuk TOEFL IBT dan 6.5 untuk IELTS. Intinya, bahasa Inggris saya -berdasarkan skor tes tersebut- tidaklah buruk.

However… saya sudah membuktikan bahwa skor TOEFL/IELTS tidak selalu berkorelasi positif dengan nilai yang bisa diraih ketika kuliah. Saya punya temen yang skornya dibawah saya tapi setiap kali terima ‘raport’ (hasil penilaian keluar via web kampus), nilainya selalu jauh diatas saya. Teman saya yang lain yang skornya juga pas-pasan berhasil lulus dengan ‘Distinction’ dari program MBA di universitas ternama di UK. Ketika kuliah kita akan tahu ada banyak tools yang bisa dipakai untuk memperbaiki grammar, tapi tak ada tools untuk memperbaiki konten/materi tulisan kita. Mau grammarnya sebagus apapun, kalo kontennya nol, ya tetep akan dapat nilai jelek. Sebaliknya, grammar yang jelek ‘hanya’ akan mengurangi beberapa poin dari nilai dan ada banyak cara untuk meminimalisir kesalahan grammar. Jadi, untuk yang mungkin punya skor ga terlalu bagus, ga usah bersedih hati. Kesempatan untuk lulus dengan cumlaude masih terbuka lebar.

Tantangan terberat bagi saya bukanlah menulis, melainkan membaca. Meski menulis juga bukan hal yang mudah, tapi karena tanpa membaca kita ga akan bisa menulis membuat membaca menjadi amat sangat penting. Dosen sudah memberikan kita segudang bahan bacaan (reading lists) untuk kita baca. Untuk tiap kali pertemuan mereka sudah sediakan buku dan journal untuk dibaca sebelum kita masuk ke kelas. Kadang bacaan yang dikasih akan dibahas di pertemuan itu, jadi memang wajib dibaca supaya kita tak terlihat bodoh ketika diskusi berlangsung.

Pertama kali mencoba membaca buku/literature berbahasa inggris membuat saya frustasi. Pertama, banyak banget terminologi yang kalo diterjemahin ga ada terjemahannya… hahaha… Bahasa akademik beda banget sama bahasa sehari-hari. Kadang satu kalimat punya banyak sekali terminologi yang bikin kalimatnya jadi susah dipahami. Nah kemudian, ketika satu kalimat sudah dipahami, perjuangan selanjutnya adalah memahami paragraf. Meski kita sudah berhasil menerjemahkan seluruh kata, pas membacanya secara keseluruhan kadang jadi ga make sense. Maksudnya paragraf ini apaaaa? Padahal kita tau bahwa satu paragraf hanya punya satu topic sentence, tapi kadang itu juga ga membantu. Baca cepat atau skimming juga ga membantu saya, malah bikin tambah puyeng. Saya butuh berjam-jam hanya untuk memahami satu paragraf saja. Padahal reading lists yang berisi puluhan tulisan yang harus dibaca dalam waktu terbatas ini udah menunggu dengan sabarnya. Bener-bener bikin pengen gigit laptop…

Ketika tiba saatnya ngerjain assessment, yang mana nilai kita selama satu term ini bergantung HANYA padanya, kemampuan membaca semakin diuji. Tak cukup hanya bergantung sama reading lists yang dikasih sama dosen saja, kita juga harus membuktikan kalo kita punya referensi yang luas. Tak hanya buku dan jurnal, berita juga kadang bisa menjadi bahan referensi. Apapun yang kita tuliskan, fakta atau pendapat, harus ada referensinya. Kita ga bisa asal ngomong, kecuali itu memang benar-benar pendapat kita pribadi.  Intinya, kita harus banyak banyak banyak baca…

Beberapa tips yang bisa saya berikan berdasarkan pengalaman kesusahan membaca literature berbahasa inggris adalah:

  1. Banyak baca,
  2. Banyak baca, dan
  3. Banyak baca.

😀

Kalo udah kebiasaan baca nanti akan terbiasa dengan terminologi dan cara berpikir orang sini. Struktur tulisan mereka memang berbeda dengan kita yang kadang ngalor ngidul loncat-loncat ga jelas. Mereka sangat rapi dan taat azas lah kalo boleh dibilang begitu. Satu paragraf satu topic sentence. Antara satu paragraf dengan paragraf yang lain juga alurnya jelas dan selalu ada bridging-nya. Kalo udah terbiasa, nanti bisa tau ga harus baca setiap kata untuk paham tulisan itu ngomongin tentang apa. Kalo baca jurnal atau buku juga begitu, abstract atau introduction kadang cukup untuk tau apakah yang kita cari ada di artikel tersebut atau tidak.

Semoga pengalaman saya membantu teman-teman 🙂

 

Fairhust Library, di sela-sela break sebelum hadir di workshop

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s