Resolusi 2017

Banyak berseliweran di wall facebook saya beberapa teman dan kenalan yang menuliskan resolusi 2017-nya seiring dimulainya hari pertama di tahun yang baru ini. Perlukah menuliskan resolusi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Entah kenapa kata ‘resolusi’ kemudian sering digunakan ketika momentum tahun baru-an tiba, dengan embel-embel ‘angka tahun’ dibelakangnya.

Menuliskan cita, mimpi, asa, sudah saya lakukan semenjak saya masih gadis. Sebagai seorang koleris melankolis yang teratur, saya biasa menuliskan dengan rapi apa saja (meski kebiasaan ini kemudian perlahan lenyap ketika menikah dengan suami plegmatis yang ‘ngalir aja’ hehehe). Saya selalu punya buku agenda, dulu malah menyengaja membeli agenda yang bagus dan mahal (mahal versi mahasiswa ya hahaha). Ketika menikah, saya mengajak suami untuk menuliskan mimpi kami dalam sebuah buku khusus. Cita itu pun tidak lagi mimpi pribadi yang diperjuangkan sendiri. Mimpi itu menjadi mimpi kami, mimpi keluarga.

Di awal pernikahan, kami menuliskan visi dan misi keluarga hingga action apa yang diperlukan untuk meraih mimpi itu. Ada mimpi tentang finansial/harta (rumah, mobil, dll), pendidikan (kami ingin lanjut terus hingga S3 di luar negeri), karir (pengen jadi dosen), sosial (pengen punya panti asuhan), hari tua (pengen punya toko craft, kalo suami pengen punya kebon), dan seterusnya. Buku mimpi ini kami revisi seiring waktu. Anak-anak yang dititipkanNya kepada kami, orang tua, termasuk asisten rumah tangga yang ikut tinggal bersama kami pun menjadi bagian dalam hal-hal yang ingin kami raih.

Saya lupa tepatnya kapan. Sebenarnya saya biasa menuliskan mimpi, target, harapan sejak lama. Tapi kebiasaan menuliskan dengan detail setiap mimpi ini bermula ketika saya membaca buku Chicken Soup for the Soul versi meraih mimpi yang ini:

Saya tahu covernya tak semenarik buku-buku Chicken Soup versi lain, tapi isinya sungguh menginspirasi saya. Banyak kisah-kisah sukses orang-orang yang mimpinya terwujud dan yang lebih kerennya lagi, penulisnya merangkumkan untuk kita tips-tips, langkah demi langkah, bagaimana bisa berhasil meraih mimpi sebagaimana orang-orang yang sharing di buku tersebut. Buku ini sangat saya rekomendasikan sekali, highly recommended book. Keren banget!

Hidup dan sekolah di luar negeri juga adalah mimpi yang saya dan suami tuliskan di buku mimpi kami bertahun-tahun yang lalu. And now here we are…

Sangat menakjubkan ketika membuka lagi buku itu, ketika kita pada akhirnya berhasil meraih satu persatu apa yang kita citakan dahulu. Impian yang -saya masih ingat perasaan yang saya rasakan ketika menuliskannya- tampak mustahil, seperti bunga tidur yang kemudian lenyap ketika terbangun di pagi hari. Tapi ternyata Allah swt menjadikan mimpi itu hal yang baik dan dengan kehendakNya kami bisa menghirup dinginnya udara musim dingin di York, UK, ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman.

So, kembali ke resolusi 2017, perlukah?

Yup, menurut saya perlu sekali. Meskipun saya sendiri lebih memilih momentum hari lahir yang lebih personal dan private untuk mimpi personal saya, atau hari pernikahan untuk cita-cita keluarga. Di momen itu saya (atau kami) mereview kembali mana mimpi yang sudah dan belum terwujud, merevisi mimpi, membuat mimpi-mimpi baru, untuk anggota baru misalnya (harapan kami untuk si bungsu belum sempat kami tuliskan hehehe..), dan lain-lain. Apapun momentum yang kamu pilih, misalnya tahun baru ini, silakan menuliskan apa saja target, mimpi, cita, dan harapan (apapun namanya) untuk dirimu, keluarga, anak-anak, bahkan bangsa dan negara juga bisa (apa yang kamu bisa lakukan untuk itu).

Resolusi 2017 saya?
Banyaaaaaak…  😀

Ohya, satu lagi, tak perlu membandingkan mimpi kita dengan mimpi orang lain, capaian kita dengan capaian orang lain. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk atau sama saja dengan hari kemarin, bukan lebih buruk dari orang lain. So, bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu tahun lalu, masih kek gitu aja atau apa yang sudah kamu raih. Tiap orang punya passion dan kelebihan masing-masing, bidang dimana kita bisa memberi manfaat untuk orang banyak yang berbeda-beda. Silakan mengambil pelajaran atau terinspirasi atas kesuksesan orang lain, tapi pastikan itu benar-benar mimpimu 🙂

 

(Tulisan ini dibuat tanggal 2 Januari 2017 di blog saya yang lama dan saya pikir masih relevan dan baik untuk di share dimarih dengan revisi seperlunya)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s