Hari pertama anak-anak sekolah

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, anak-anak sudah melihat-lihat sekolahnya beberapa pekan sebelum masuk, di pertengahan Desember. Hanya saja karena sekolah akan libur panjang Natal dan guru-guru perlu persiapan untuk menyambut siswa baru yang tidak bisa bahasa Inggris ini, maka anak-anak baru sekolah beneran awal Januari 2016. Saya dan pihak sekolah sudah berinteraksi via email terkait persiapan ini. Salah satunya yang agak unik adalah ketika sekolah meminta saya menerjemahkan kata-kata yang sering dipakai di sekolah ke dalam bahasa Indonesia. Saya pikir, ah gampang, pasti kata-katanya bahasa sehari-hari yang sering dipakai. Ternyata tidak sodara-sodara 😀

Ketika membuka email dan melihat daftar kata yang mereka minta untuk saya terjemahkan, sebagian besar kata-kata tersebut memang gampang. ‘Toilet’, ‘sit down’, ‘line up’, ‘lunch’, ‘drink’, ‘water’, ‘hall’, ‘library’, ‘please can I’, ‘please can you’, ‘come here’, ‘I need help’, dan lain-lain adalah kata-kata yang masuk kategori gampang ini. Tapi ada beberapa kata yang saya ga paham dan takut untuk menerjemahkan. Seperti kata ‘hot dinners’ dan ‘home dinner’, jika diterjemahkan akan menjadi makan malam hangat dan makan malam di rumah/rumahan (???). Masa’ anak-anak akan ada acara makan malam di sekolah? Dan itu sering? Karena bu Guru memasukkan kata itu kedalam list yang artinya kata itu sering dipakai di sekolah. I have no idea…

Pertama saya googling dan menemukan jalan buntu. Akhirnya saya bertanya ke mba-mba yang punya anak yang bersekolah disini juga. Ternyata ‘dinner’ di York (dan mungkin sebagian UK) bukan hanya berarti makan malam. Semua makan besar, baik siang maupun malam disebut ‘dinner’ (meski mereka juga mengenal ‘lunch’). ‘Hot dinners’ berarti makan besar (hangat) yang disajikan di piring, bukan sekedar sandwich atau roti misalnya. Sedangkan ‘home dinner’… well, sampe detik ini saya masih ga begitu yakin sama yang ini. Bisa jadi makan di rumah atau makanan yang dibawa dari rumah… Entahlah… Ntar deh, saya tanya sama ortu lain nanti. Saat itu kepada bu Guru, ‘hot dinner’ dan ‘home dinner’ saya artikan sebagai ‘makan besar’ dan ‘makanan rumah’… hehehe 😀

Kesalahan lain yang saya sadari belakangan adalah terjemahan dari ‘pack up’. Saya menerjemahkan kata ‘pack up’ menjadi ‘berkemas’. Hahaha… Padahal seharusnya adalah ‘bekal’, dan ‘pack up lunch’ berarti ‘bekal makan siang’. Juga ‘play time’ yang saya artikan sebagai ‘waktu bermain’ padahal mungkin lebih tepatnya ‘waktu istirahat’. It’s tricky, isn’t it?

Okay, sekarang tentang hari pertama sekolah.

Tentunya sangat gugup tapi juga excited. Mereka takut disuruh memperkenalkan diri di depan kelas hehehe. Saya tidak berharap banyak kepada anak-anak karena beberapa teman sempat bercerita ada anaknya yang menangis di hari pertama sekolah karena ga ngerti guru dan teman-temannya ngomong apa…

Hari itu anak-anak sudah siap sejak pagi, memakai seragam kemeja putih, jumper (semacam sweater) hijau, dan celana abu-abu barunya dan sudah sarapan. Di sini sekolah masuk pukul 8.50 pagi sampai 16.25. Kami, saya dan suami, mengantarkan anak-anak ke sekolah, masuk ke ruang reception. Kami lalu diantarkan oleh salah seorang staff yang sangat ramah ke kelas mereka masing-masing. Pertama Raisha ke Year 3 dan si kembar ke Year 5. Saya ditanya soal makan siang, dan saya bilang bekal mereka ada di dalam tas. Setelah itu, sudah, done… saya pun diminta meninggalkan mereka.

Sore hari, ketika menunggu anak-anak pulang sekolah, saya disamperin sama salah satu bu Guru si kembar. Dia bercerita dengan cepat bahwa anak-anak sudah ‘press’ tadi di ruang musik. Saya bingung, tapi kemudian paham, karena dia menyebutkan kata itu berkali-kali, ternyata maksudnya adalah ‘prays’ alias shalat. Saya meminta maaf karena lupa menyebutkan perihal shalat ini di pagi hari ketika mereka menanyakan apakah ada yang perlu dipersiapkan lagi untuk mereka. Tapi Ms Tailor, bu guru yang ramah ini, meyakinkan saya bahwa anak-anak was okay.

Dalam perjalanan sepulang sekolah saya baru mendapatkan cerita pengalaman pertama mereka. Masing-masing mereka mendapatkan teman pendamping yang senantiasa menemani mereka kemana-mana. Selain itu, mereka juga diberikan gantungan kunci yang berisi kata-kata yang dulu diminta terjemahkan kepada saya (seperti terlihat di foto). Mereka diharapkan untuk tidak cemas atau panik, ketika gurunya meminta sesuatu in English atau ketika mereka butuh bantuan tapi masih malu untuk ngomong, tinggal menunjukkan saja kata mana yang dimaksud via gantungan kunci tersebut. Mereka juga diajarkan menggunakan google translate melalui iPad yang tersedia di setiap kelas. Kadang mereka mengetikkan kata-kata dalam bahasa Indonesia untuk memberi tahu sesuatu kepada guru atau temannya.

Soal shalat dzuhur, tadinya saya pikir anak-anak tidak shalat dzuhur hari itu. Entah bagaimana cara mereka yang kemudian dengan berani memberitahu kepada bu guru bahwa mereka harus shalat. Bu gurunya pun lalu mencarikan tempat (ruang musik yang jarang dipakai) termasuk menunjukkan arah kiblat bagi anak-anak (mungkin googling. saya ga tau). Wow, saya bener-bener ga nyangka sebenernya, tapi anak-anak sudah berani ngomong dan guru pun dengan senang hati membantu mereka.

Begitulah… pengalaman hari pertama yang menyenangkan tanpa tangisan…

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s