Charity shop, kulkas umum, dan hospice care

Kembali ke soal passion saya tentang sosial.

Ngambil program master tentang kebijakan sosial, bergelut dengan ilmu sosial selama 2 tahun disini dan belajar dari orang British, banyak hal yang saya nanti pengen “bawa” ke Indonesia. Dari banyak mimpi saya untuk Indonesia, ada beberapa yang pengen saya bisa lakukan dalam waktu dekat.

Pertama, charity shop. Di sini banyak sekali charity shop, kadang kami menamainya “toko nenek”, karena seringnya yang menjaga toko adalah orang yang sudah tua alias nenek-nenek hehehe. Charity shop adalah fundraiser-nya yayasan sosial, toko yang menjual barang bekas layak pakai (mulai dari pakaian, buku, mainan, sprei, gorden, pada dasarnya apapun bisa dijual di toko ini), yang didapat dari sumbangan warga, yang keuntungannya dipakai untuk membiayai yayasan tertentu. Kami sebagai student yang punya financial resources yang sangat terbatar (ceile) merasa sangat diuntungkan dengan adanya charity shop ini. Pakaian yang harga barunya sangat tinggi bisa didapatkan dengan harga kurang dari £10 bahkan dibawah £5. Lagian kebanyakan pakaian seperti coat tebal atau sweater yang dipakai disini nanti ga akan kepake klo dibawa balik ke Indonesia. Makanya sayang jika harus mengeluarkan puluhan pounds untuk membeli coat yang hanya dipakai beberapa bulan saja.

Konsep charity shop sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Saya menemukan beberapa toko “barbeku” alias barang bekas berkualitas di sekitaran rumah saya, konsepnya lebih kurang sama. Hanya saja belum menjamur. Kalau menjual barang bekas sebenarnya sudah umum dikenal “garage sale”. Bisa juga menjual barang bekas online via OLX (yang tadinya disebut tokobagus) misalnya. Tapi charity shop, keuntungannya untuk yayasan bukan pribadi. Toko barbeku ini yang sepertinya paling dekat konsepnya dengan charity shop sebab orang yang berbelanja disana, selain karena harganya murah, juga termotivasi karena uangnya dipakai untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Toko barbeku di dekat rumah saya adalah milik yayasan pendidikan. Toko charity shop saya nanti akan menjadi fundraiser untuk panti asuhan yang lain kali akan saya ceritakan (sabar yak hehehe).

Kedua, pernah dengar istilah “community fridge”? Yup, kulkas umum. Saya terinspirasi penduduk London seperti yang digambarkan dalam video ini. Well, kulkasnya mungkin punya saya, tapi isinya milik umum. Jadi konsepnya gini, untuk yang ngerasa kelebihan makanan atau beli makanan tapi ga dimakan padahal dah mau deket waktu daluarsanya, atau bikin pesta dan banyak makanan lebih, nah silakan taruh makanan itu di kulkas umum. Siapapun yang membutuhkan silakan ambil saja, gratis, tak perlu bayar sepeserpun. Semua makanan yang ada disana, silakan ambil seperlunya. Gimana nanti kalo makanannya di ‘jarah’? Atau mungkin nanti yang ngambil malah bukan orang miskin? Ya gapapa lah. Berarti dia memang butuh. Bisa jadi juga ada yang ngambil semua makanan disana untuk kebutuhan beberapa hari kedepan, ya monggo saja. Saya paham yang seperti ini di Indonesia masih jarang. Tapi… kalo ga dimulai sekarang, ya mau kapan lagi? Saya optimis, dalam jangka waktu lama, konsep ini bagus. Niat baik jangan ditunda, ya ga?

Kemudian ada yang namanya hospice care. Pertama kali denger istilah ini adalah ketika suami beli buku bekas di salah satu charity shop milik salah satu hospice care. Kemudian qadarullah saya nonton salah satu video TED di youtube (bisa dilihat disini) yang pembicaranya adalah pendiri hospice care di Amerika. Ibu itu menceritakan bahwa di US baru ada dua hospice home, sementara di UK yang wilayahnya hanya seuprit-nya US, punya 54 hospice home. Saya pun searching dan memang banyak sekali hospice home disini. Apa sih hospice care itu? Kalo boleh saya analogikan, hospice care itu semacam panti asuhan/jompo, hanya saja isinya orang-orang, baik anak-anak maupun orang tua, yang sudah terminally ill (sakit keras yang sudah tidak bisa disembuhkan). Intinya, jasa ini menawarkan fasilitas bagi orang yang sudah divonis umurnya secara medis tidak lama lagi, tapi ingin menghabiskan sisa umurnya tidak bersama mesin dan selang. Rumah tempat hospice care ini biasanya didesain sangat homey, indah, keluarga bisa menjenguk setiap saat, jauh dari ‘kesan’ rumah sakit, meski beberapa dari mereka mungkin akan tetap dibantu alat-alat. Saya kurang tau jenis care ini sudah ada di Indonesia atau belum, tapi suatu saat pengen bikin hospice home ini. Meski saya ga punya ilmu medis, ilmu psikologi, paling ga nanti bisa join sama yang kompeten masalah itu. Semoga Allah nanti ngasih jalannya dan memudahkan…

Lalu juga tentang disabilitas. Sangat jauh perbedaan yang saya liat bagaimana orang British memperlakukan penyandang disabilitas dengan Indonesia. Sudah banyak memang di Indonesia lembaga-lembaga yang mengakomodir. Semoga saya bisa bergabung dengan lembaga-lembaga itu suatu saat nanti. Fokus utamanya adalah anak-anak, agar mereka bisa menatap hari depan dengan optimis, diperlakukan lebih manusiawi. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia belum terlalu ‘ramah’ dengan mereka.

 

York, 30 April 2017

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. zarahsafeer says:

    * love *love, mau ngubek2 blog Mbak Ninaaaa

  2. ummu shofi says:

    Monggo mba Zarah 🙂
    Aku juga lagi ngubek2 blogmu hehehe
    Tulisannya bagus2… Kereeen…

  3. zarahsafeer says:

    Apaan Mbak, lah…wong curhat semua..

  4. ummu shofi says:

    Lha ya sammmaaa yak wkwkwk… 😀 😀 😀
    Blog kan emang diary digital tapi bisa dilihat publik hehehe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s