Homework after exam? Oh, no!

Masih ingat cerita UN-nya kaka Iffah dan Alif? Nah, kira-kira setelah ujian akhir, mereka ngapain aja yah?

Ternyata… meskipun udah selesai seminggu berdarah-darah (ceile) ngerjain ujian SATs, bu Guru masih tega ngasih pe-er buat mereka. Dan ga cukup satu, tapi 21! Yups, dua puluh satu pe-er. Mau tau apa aja pe-er mereka? Lihat saja panjangnya list di bawah ini:

  • Play in the park with friends or family
  • Play in the sun (because it will be sunny)
  • Go on bike/scooter ride
  • Go swimming
  • Go for a walk
  • Play a game of football/netball/basketball/cricket/tennis, etc
  • Read a good book outside
  • Go/try something new
  • Spend time with your friends
  • Spend time with your family
  • Play a board game
  • Play a computer game with your friends
  • Watch a film with your friends or family
  • Paint Warhammer models and/or paint something (canvas, pottery, your nails!!!)
  • Tell a joke every day
  • Lough out loud at least once a day
  • Take a photograph of something amazing
  • Take a photograph of people that are important to you
  • Sing/dance!
  • Say something nice to someone every day
  • Eat ice cream (if you’re allowed)

Tuh, banyak banget kaaan?

Dan mereka hanya dikasih waktu dua pekan untuk melakukan semua hal di atas… Hmmm… bisa ga ya?

😀

Waktu saya es-de dulu ga pernah dapet pe-er kayak begini hihihi…

Saya ga inget anak-anak waktu di Indonesia pernah dapet pe-er semacam ini. Bagi para guru, pe-er semacam ini saya pikir bagus lho buat anak-anak. Ga hanya mata pelajaran, tapi having fun juga bisa dibuat jadi pe-er. Perspektif anak-anak tentang pe-er juga jadi berbeda. Pe-er bukan lagi hal yang menakutkan atau hanya bikin capek doang. Mereka mungkin malah akan menunggu-nunggu pe-er apa lagi kali ini?

Dan ga hanya sing or dance, mungkin sesekali anak-anak -sesuai usianya- bisa dikasih pe-er disuruh memasak telur dadar misalnya, atau membantu ayah mencuci motor/mobil, membantu ibu menyiram tanaman atau mencabut rumput, membersihkan kamar mandi, dan pekerjaan rumah lainnya. Anak-anak yang dibekali life-skill -katanya- akan lebih cepat mandiri dan siap menerjang kehidupan (taela…). Kalo maknya lagi sakit atau pergi ke luar kota mendadak -misalnya, anak-anak ga kagok lagi mengurus rumah sendiri. Tentunya tetap dibawah pengawasan orang dewasa.

 

York, 22 Mei 2017

Setelah submit satu essay

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s