The Fourth Angel

Lulus kuliah (awal 2012), saya ditempatkan kembali di Direktorat P2Humas lagi. Saya agak surprise, meskipun sebenernya memang pengen kembali lagi ke direktorat ini, khususnya kembali ke call center pajak “Kring Pajak”. Tapi oleh pak Kasubag TU ketika itu, saya tidak dikembalikan ke call center, melainkan ke SubDirektorat Penyuluhan Perpajakan. No problem. Senang-senang aja sih ketika itu…

Tahun 2012 itu saya dan suami setuju untuk punya anak lagi. Saya merasa ‘ditinggalkan’ oleh Raisha yang ketika itu udah masuk TK. Saya pengen ada yang  digendong, disusui, dipeluk, diurusin lah. Kakak-kakaknya udah pada sibuk main semua… hehehe…

Alhamdulillah, Allah memudahkan saya punya anak lagi. Lepas KB langsung haid lagi dan hamil (seperti yang saya ceritakan disini). Agak meleset dari yang diinginkan (saya pengen lahirnya bulan April, karena semua kakaknya lahir di bulan itu hehehe).

Shofiyah Mutmainah Firmansyah, demikian kami beri namanya. Mutmainah karena saya ngerasa anak ini lebih tidak kalem dibanding ketiga kakaknya… hahaha…

Lahir 27 Mei 2013, ketika neneknya sudah pensiun dan bisa menimangnya. Sekarang sudah 2 tahun lebih, sudah bisa lari dan nyanyi. Alhamdulillah…

Welcome to the world, Sofi:)

IMG-20131014-WA000

Episode Kuliah D IV

Grad-OpportunitiesSaya mencoba mengingat lagi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama 6 tahun terakhir. Ada banyak hal yang telah terjadi dan kuliah lagi salah satu yang saya pikir perlu diceritakan kembali disini.

Pertengahan 2009, ketika masih menjabat sebagai agent call center “Kring Pajak” milik Ditjen Pajak, saya ‘dipaksa’ suami untuk nyoba tes masuk Diploma IV STAN. Ketika itu sebenernya udah ga kepikiran untuk kuliah lagi. Sudah nyaman dan menikmati lingkungan kerja dan segala tetek bengeknya. Namun demi menyenangkan suami, saya pun nyoba ikut tes.

Alhamdulillah Allah berkehendak saya harus kuliah lagi. Demi waktu bersama anak-anak, saya pun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa (lagi).

Tidak seperti kerja yang pergi pagi pulang malam, kuliah ini punya waktu jauh lebih longgar. Sepekan tidak harus setiap hari ke kampus, kadang hanya tiga hari, itu pun tidak dari pagi hingga sore. Menyenangkan sekali bisa mengantar jemput si kembar yang udah mulai masuk sekolah ketika itu dan punya waktu lebih untuk Raisha yang waktu itu masih belum 2 tahun.

Tapi yang paling menakjubkan, yang kemudian sangat saya syukuri, adalah betapa ketika kuliah D IV itu saya sangat menikmati proses menimba ilmu di dalam kelas. Seperti ada passion yang baru tergali. Menyenangkan sekali berbagi ilmu, bertukar info, membaca buku, mengerjakan tugas, dan mendengarkan materi-materi kuliah dari dosen yang ketika Diploma III dulu tidak saya perhatikan dengan baik karena terlalu semangat berorganisasi. Mungkin mata kuliahnya yang memang menarik dan saya sukai, atau mungkin juga karena ketika itu saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa punya IP bagus (soalnya IP saya waktu D III ga seperti yang saya harapkan).

Saat kuliah ini juga saya bertemu dengan dosen-dosen luar biasa yang senantiasa memacu mahasiswa-mahasiswanya untuk terus melanjutkan pendidikan hingga setinggi-tingginya. Dan saya termasuk yang terbakar semangatnya hehehe…

Di blog saya yang satu lagi saya sudah cerita tentang bahagianya saya jadi mahasiswa, ngerjain skripsi, dan tegangnya ketika sidang. Alhamdulillah saya bisa lulus dengan nilai yang (bagi saya) itu sangat memuaskan.

Senang bisa menjalani lagi kehidupan sebagai mahasiswa ketika itu…

Tulisan yang Lalu

Baiklah…

Total ada 137 tulisan yang sudah saya publikasikan di blog saya yang di blogspot. Dan sepertinya saya tidak akan meng-copy semua lalu mem-paste-nya kesini. So, saya akan memilih beberapa tulisan yang dikira penting diarsipkan disini. Selebihnya, saya akan tulis ulang kisah-kisah lama saya untuk direkam jejak disini dengan menyertakan link-link dari blogspot. Jika ingin mengikuti lebih detail kisah saya 6 tahun terakhir, monggo langsung ke blogspot saya aja ya:)

Demikian sekilat info…

Selamat menikmati:)

Setelah 6 tahun…

MasyaAllah… ternyata udah 6 tahun blog ini nganggur…

Maafkan saya ya blog:)

InsyaAllah setelah ini saya akan penuhi lagi dengan postingan-postingan terbaru.

Ohya, di postingan terakhir, saya bercerita tentang blog saya yang di multiply.com. Sayangnya blog itu sekarag sudah almarhum sehubungan dengan hilangnya multiply. Kemudian saya bikin blog lagi di blogspot. Monggo berkunjung ke ninasabnita.blogspot.com:)

Sudah banyak yang terjadi setelah 6 tahun. Sekarang saya sedang melanjutkan lagi upaya meraih mimpi, kuliah di luar negeri. Alhamdulillah, sudah hampir 2 bulan ini saya bertarung dengan dinginnya kota York, UK. Sehari-hari kuliah di University of York.

Panjang ceritanya, tapi insyaAllah akan saya cicil menggandakan tulisan-tulisan yang ada di blogspot kesini.

So, enjoy and it’s very pleased to greet you again dear wordpress ^_^

Ketagihan multiply

Maafkan saya karena blog wordpress ini jadi terabaikan.

Sebenarnya saya masih menulis, bahkan hampir tiap hari. Hanya saja tidak disini, melainkan di blog saya yang di multiply.

Fasilitas yang berbeda, juga kebanyakan teman-teman saya punya account disana menyebabkan saya balakangan lebih enjoy ber-eMPi-ria.

Hmmm… Mudah-mudahan saya bisa ‘adil’ me-manage kedua blog saya.

Maafkan saya ya…

Episode Raisha

Sebenernya saya sendiri lebih seneng nama “Khadijah” atau “Fathimah” untuk namanya si dede waktu kami lagi nyari-nyari nama, tapi si abi lebih seneng sama “Rumaisha”, jadi sayanya ngalah. [Lagian alesannya karena nanti panggilannya pasti ‘icha’ atau ‘chacha’ yang notabene nama pasaran (ya kan?) dan biasanya nama begitu anaknya manja (ga semua sih ya…)] Lagian Rumaisha binti Milhan alias Ummu Sulaim, shahabiyah yang namanya kami ambil, profilnya luar biasa. Ngga kalah sama Ummul Mukminin Khadijah ra dan Fathimah az-Zahra. Lengkapnya baca di sini aja ya…

Kemudian untuk namanya keduanya kami pilih “Hanifah” sebagai doa baginya agar selalu di jalan yang hanif/lurus. Kemudian dinasabkanlah kepada abinya. Tadinya kami (saya dan suami) juga sempat sepakat akan menasabkan semua anak kami kepada “Mujahid/Mujahidah”, namun dengan saran dari berbagai pihak akhirnya dinasabkanlah kepada ayahnya. Memang seharusnya begitu…

Karena nama abinya adalah “Firmansyah” maka hampir semua kata anak-anak kami jadi punya akhiran ‘ta marbutho’ semua. Coba liat saja nama mereka :

AfifAH MujahidAH FirmansyAH

AlifAH ShalihAH FirmansyAH

Rumaisha HanifAH FirmansyAH

Tuh kan?!

^_^ Ga sengaja lho… hehe…

Oiya, tadi kan mau cerita tentang raisha…

Setiap anak pasti punya ke-khas-an masing-masing. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Semua anak unik dan punya memory sendiri, terutama bagi ibunya.

Awalnya saya ngga ngerasa hamil, karena tidak ada perubahan dalam tubuh saya, misalnya mual, muntah, pusing, yang dialami orang yang sedang hamil muda. Cuma agak heran karena koq udah 3 minggu ngga haid (baru sadar waktu udah 3 minggu? Parah yak?!) Saya kemudian beli test pack dan ternyata positif. Beberapa hari kemudian baru periksa USG ke dokter kandungan, dan ternyata memang sudah ada makhluk lain itu di dalam perut saya. Saat itu usianya sudah 9 minggu.

Tidak ada keluhan berarti selama kehamilan, Cuma kalo laper aja suka pusing. Lainnya? Ga ada. Bener-bener beda sama pas hamil si kembar (ceritanya puanjang… lain kali ya… sekarang giliran dede icha dulu). Sampe-sampe saya kuatir kenapa-napa pas lahiran (kata orang sih begitu… Kalo pas hamilnya ‘berat’ pas lahirannya lancar, kalo hamilnya lancer lahirannya yang ga ‘lancar’. Entahlah… Wallahu a’lam.

Namun saya membuktikan mitos itu tidak benar. Si dede ‘hanya’ membuat saya sakit selama 4 jam saja. Lahiran juga normal, dengan berat 4 kg! Dan saya hanya dapet 2 jahitan saja.

Juga tidak ada keluhan berarti setelah lahirnya. Nilai APGAR 9/10, sehat, rambut tebal, semua oke, plus tambahan : cantik ^_^. Ini Icha umur 2 hari, udah kaya’ bayi 2 bulan ya?

ASI lancar sehingga saya bisa menggenapkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan insyaAllah akan menyapihnya di usianya yang kedua. Amiiiin…

Raisha juga bukan bayi yang cengeng, bahkan jarang menangis kecuali lapar atau pipis, itu juga hanya merengek. Pernah datuknya (papa saya) nginep di rumah selama 3 hari dan komentar,”Koq datuk ngga pernah denger Raisha nangis ya?” Saking jarangnya dia menangis. Dia juga ngga pernah sakit. Dalam usianya yang sudah 9 bulan, Icha belum pernah muntah, sakit panas, atau masuk angin.

Semoga Raisha selalu jadi anak yang menyenangkan mata dan hati umi dan abi ya nak…

Semoga Allah selalu menjagamu, memberi kesehatan, petunjuk, dan menjadikanmu anak yang shalilhah mujahidah hanifah, taat kepada Allah dan Rasulullah…

Amiiiinnn…


icha

Kampus dalam kenangan

Banyak hal yang belakangan mengingatkan saya pada kampus saya tercinta, STAN jurangmangu. Sebelas lulusan STAN tahun ini sedang magang di ruangan saya. Juga mulai membuat account di Facebook yang lagi-lagi mempertemukan saya dengan teman-teman STAN saya, kenangan-kenangan bersama mereka kembali berputar-putar dalam memori saya. Juga melihat multiplynya mahasiswa dan alumni STAN yang beberapa dari mereka telah menjadi contacts saya…

Kampus STAN jurangmangu, yang selalu saja di tulis “STAN Jakarta” padahal posisi ada di Tangerang, Banten. Pertama kali menginjakkan kaki di tahun 2000, meski tak se”indah” kampus-kampus lainnya, tapi tak membuat kebanggaan saya berkurang.

Dan yang membuat saya paling bersyukur, karena di STAN, saya mendapatkan hidayahNya, mulai mengenakan busana taqwa, juga bersentuhan bahkan terlibat langsung dalam dawah bersama banyak teman lainnya -yang kemudian saya panggil ‘ikhwah’.

Sungguh, predikat “akhwat karbitan” pantas saya sandang, karena seakan dipaksakan. Seorang nina yang ‘begini’ tiba-tiba jadi ‘begitu’… Tapi itulah hidayah. Alhamdulillah… Allah berkenan mempertemukan saya dengan jalan yang telah dilalui para Nabi dan Rasul ini…

Wah, sesungguhnya saya malu, sangat tidak pantas, saya tidak berniat berkata bahwa saya telah melakukan tugas semulia para Nabi dan Rasul. Masih jaaaauuuuh… Tapi betapa keindahan ukhuwah yang saya rasakan dengan para ikhwah, keberkahan saat kita berani membagi sedikit ilmu tentang islam yang kita punya kepada yang lain, membuat saya begitu mencintai da’wah ini…

Begitu banyak kenangan-kenangan indah yang sungguh tak dapat saya ceritakan satu persatu. Hanya syukur yang begitu dalam kepada Allah SWT telah memberikan jalan hidup yang begitu indah, memperkenankan saya mengecap manisnya da’wah.

Semoga saya tetap istiqomah… 

Semoga saya termasuk kedalam salah satu manusia yang gembira saat gerbong da’wah ini memasuki jannah-Nya dan saya berada dalam salah satu gerbongnya, bukan penonton yang hanya menyesal telah turun dari gerbong atau malah tak pernah naik ke gerbong…

Semoga saya dan Anda, ikhwah fillah, dapat bertemu kembali dalam lingkaran yang sama bersama para sahabat, para shalih, para mujahid dan syuhada, dengan Rasulullah SAW sebagai Murabbinya, dalam taman syurga kelak….

Aaaaamiiiin….

Aaaminnn ya rabbal ‘aalamiiin…

Energi Positif – Energi Negatif

Menurut penjelasan dari Jamil Azzaini, seorang trainer terkenal dari Kubik Leadership, setiap kali kita melakukan kebaikan maka kita telah mengeluarkan energi positif. Begitu juga sebaliknya, energi negatif bila kita melakukan suatu keburukan/kejahatan.

Pernah dilakukan percobaan terhadap dua wadah nasi. Wadah pertama ditulis suatu perintah agar orang-orang yang lewat mengucapkan kata-kata yang baik kepada nasi yang berada di wadah tsb. Dan kata-kata buruk pada wadah kedua. Apa yang terjadi kemudian? (seperti yang saya yakin juga ada di pikiran pembaca semua) Ternyata nasi di wadah 2 segera rusak, busuk, berjamur, dan berbau, tidak seperti nasi di wadah 1 yang tetap segar.

Sebagaimana konsep energi yang kita pelajari di sekolah, bahwa pada dasarnya energi tidak bisa hilang, hanya berganti bentuk dengan yang lain. Artinya kebaikan yang kita lakukan dalam bentuk energi positif yang kita berikan kepada orang lain, mungkin tidak akan kembali lagi ke kita dari orang tersebut. Tapi percayalah, bahwa kita akan menerimanya mungkin dari orang lain, mungkin juga dalam bentuk yang lain, juga di waktu yang lain.

Energi positif akan kembali kepada kita. Begitu pula energi negatif. Pernah mendapatkan keajaiban? Mungkin itu karena dulu Anda pernah berbuat kebaikan yang entah untuk siapa.

Banyak contoh dalam kehidupan kita… Anda pasti tau jawabnya…

Hanya saja, ada yang mengganjal pikiran saya. Terkait pekerjaan yang saya yang hampir setiap hari selalu mendengar kemarahan, kekesalan, ketidakpuasan, kekecewaan, dsb, Sehingga hampir setiap hari pula saya menerima energi negatif itu…

Menurut temen-temen, gimana ya?

Biasanya yang saya lakukan adalah dengan mendengarkan energi positif dari alunan murattal dari ust. Al Ghomidi. Tapi itu juga hanya bisa sebelum atau setelah jam kerja… Tidak sebanding dengan yang saya dapatkan sepanjang hari….

Any idea?

Jazakumullah sebelumnya…

Mobilku

kijang innovaDari sekian penderitaan, kemiskinan, gelandangan, pengangguran, yang ada di ibukota akan tampak kontras dengan berjejernya mobil mewah tsb. Tapi inilah Jakarta.

Setiap hari memperhatikan mobil-mobil, saya jadi tahu ternyata Toyota memang rajanya pasar. Setidaknya itu yang saya lihat setiap hari. Tentunya hanya mengira-ngira dengan penilaian sangat subjektif…^_^V

Beberapa mobil yang sering saya lihat adalah Toyota Kijang dari segala merek dan tahun pembuatan, Honda Jazz, Nissan Grand Livina, Nissan X-Trail, Toyota Rush, Daihatsu Xenia, Suzuki APV, Toyota camry, honda Vios, dan merek-merek yang lain… (apalnya cuma itu… hehe..)

Tapi menempati urutan 3 teratas (sekali lagi ini tidak ada dasar statistiknya, semata-mata pendapat pribadi berdasarkan laporan pandangan mata… xixixixi…) adalah…

Urutan ketiga diraih oleh Honda CRV. Meskipun ini mobil mahal tapi tetep aja hampir tiap 50 meter selalu ada mobil keren ini.

Di urutan kedua ada Toyota Avanza. Ini mobil kaya’nya untuk kalangan menengah, jadi lebih banyak yang ‘mampu’ beli.

Daaaan… jreng-jreng-jreng…

Mobil yang paaaaaling sering saya lihat adalah Toyota Kijang Innova. Wah ini mobil bener-bener disukai banyak orang. Kalo ada 10 mobil, mesti salah satuya innova. (halah lebay…)

Apa mungkin salah satunya karena saya emang suka Innova, karena kapasitasnya yang besar… hehe…

Kalo ditawarin pengen mobil apa, saya akan pilih innova abu-abu…😛

Tapi mimpi kaleee… hehe… harganya buuu… Tapi kalo dikasih ya mau lah…(duh, mimpi lagi…)

Tapi kalo dikasih rejekinya cuma Fortuner ato Alphard ya saya mah bersyukur aja lah… (bangun wwwooooyyyyyy!!!!)

Tapi kalo diitung-itung, kayanya rodanya aja saya ga mampu beli… hehe… (lagian ngapain juga beli rodanya doang…?!)

Masa kecilku

Pengen sedikit cerita tentang masa kecil yang saya lewati di 4 kota berbeda.

Sungai liat, bangka, kota pertama saya. Tiga tahun pertama hidup saya habiskan disini. Mama bidan, belum kerja, sedangkan papa kerja di tambang timah. (mestinya saya juga bisa bikin cerita kaya Andrea Hirata ya… hehe… ayahnya kan juga kerja di tambang timah…)

Pas mama keterima kerja di salah satu rumah sakit (apa puskesmas ya? Lupa!) baru bilang ke papa bahwa mulai masuk hari senin, eh anak sulungnya ini langsung mencret beberapa hari. Pas mama memutuskan ga jadi masuk karena saya sakit. mencretnya langsung berhenti. Karena udah sembuh, mama bilang akan masuk lagi. Baru aja ngomong, si kecilnya ini sakit lagi… hehe… emang mamanya ga boleh kerja sih…

3 tahun di Bangka kami pindah ke Payakumbuh, Sumatera Barat, kampung halaman mama dan papa. Cuma setahun disana. Papa yang ternyata kemudian kerja di Sulawesi memutuskan kami -mama, saya dan adik saya- ikut kesana. Jadilah kami sekeluarga pindah ke kota kecil di pinggir sulawesi tenggara bernama Wosu.

Usia saya udah 4-5 tahun waktu kami disana. Cukup banyak yang saya ingat. Rumah sederhana yang dari halaman bisa langsung melihat laut. Sore hari menikmati sunset sambil jalan-jalan di pinggir pantai dengan pulang membawa oleh-oleh umang-umang yang besar (yang pagi harinya sudah kabur lewat bawah pintu). Di pantai yang hanya berjarak sekitar 50-100 meter dari rumah saya sering menyaksikan kapal yang datang dan pergi tidak setiap hari di pelabuhan alami (ga ada bangunan/dermaga). Ada gudang untuk meletakkan bambu-bambu sampai menggunung tinggi, yang saya sering naik sampai ke puncaknya. Sekolah TK saya (saya masih inget dijodoh-jodohin sama salah seorang anak laki-laki… MasyaAllah, masih TK dah begituan… ck…ck…ck…)

Yang paling diingat adalah saat mama dan papa memutuskan untuk pulang kembali ke Payakumbuh, karena SK PNS mama di salah satu rumah sakit di Bukittinggi sudah keluar. Jadi waktu itu, sebagaimana para pendatang yang kemudian pergi, penduduk desa selalu membantu.

Ada sebuah sungai yang tidak bisa dibilang besar (karena bisa dilalui dengan berjalan kaki menyeberanginya) tapi juga tidak kecil (karena lebarnya sekitar 20-30 meter). Menurut penduduk, tiap tahun sungai ini selalu menelan ‘korban’ pendatang. Dan belum ada korban untuk tahun ini. Semua cemas.

Pas hari-H, tibalah saat dimana harus menyeberangi sungai. Arusnya cukup deras, harus berjalan pelan-pelan kalo engga bisa hanyut. Sebenernya cukup dangkal, kira-kira sepinggang, paling dalam ya sedada orang dewasa. Saya dan adik saya sudah duluan diseberangkan oleh om-om tetangga yang baik. Tiba giliran mama dan papa. Jadi oleh orang-orang disarankan agar mama menyeberang digendong penduduk, tapi papa ngotot, biar mama menyeberang bareng papa. Pas nyampe tengah, papa tiba-tiba oleng, seperti tak bisa menahan arus yang kuat, apalagi sambil menggendong mama, mereka terseret arus sampai beberapa puluh meter. Orang-orang langsung panik dan berteriak-teriak, sebagian langsung berlari ke arah mereka berniat menolong. Saya terdiam tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba mereka terhenti, sepertinya papa menemukan pijakannya. Akhirnya papa dan mama bisa menyeberang dengan selamat, tentunya dengan basah kuyub… Tapi selamat… Alhamdulillah…

Kami sekeluargapun kembali ke padang dengan kapal laut dari sulawesi dengan perjalanan kira-kira seminggu. Masih inget, kalo dari kamar mau ke ruang makan, pasti jalannya oleng kiri-kanan (ya iyalah… secara kapal laut…hehe…) Bayangkan, seminggu! Bosen kali…. Tapi kaya’nya saya dulu enjoy-enjoy aja sih… (namanya anak kecil, mana inget… paling main mlulu…)

Di Payakumbuh saya melanjutkan TK di TK Pertiwi dan SD di SD Pius Payakumbuh. Cuma satu caturwulan, saya pindah ke Bukittinggi. Mama memang jadi PNS bidan di RSUP Bukittinggi, jadinya kami tinggal di sana sampai saya SMP.

Anakku sudah besar

Si kembarku sudah dua tahun tujuh bulan umurnya. Meski saya masih suka kesal sekali tiap mereka nangis yang hampir selalu diakhiri dengan muntah, tapi kemaren saya terkejut juga karena polahnya.

Pernah suatu kali Iffah –si sulung saya- sedang ngobrol sama saya di kamar sepulang saya dari kantor. Karena ingin ganti pakaian, dan kebetulan si dede yang sedang tidur di ayunannya sedang merengek, saya pun berinisiatif menyuruhnya untuk mengayun dan menidurkan dede Raisha yang baru 8 bulan itu.

“Eh, si dede bangun tuh sayang. Ayun dedenya gih!” kata saya.

Si kaka Iffah pun segera berlari menuju ayunan tempat dede tertidur dan langsung mengayunnya dengan lembut. Yang membuat saya tersenyum, karena saat mengayun, Iffah menyanyikan beberapa lagu untuk si dede agar segera tertidur, antara lain cicak-cicak di dinding dan balonku ada lima. Nyanyinya bukan bersenandung tapi dengan semangat… hehe… Tapi mujarab koq, si dede bobo lagi…

Tadi pagi Alif –kembar yang kedua- bangun duluan. Seperti biasa dengan tangisan merengeknya. Iffah baru saja bangun saat Alif sedang duduk manis di kursi tamu. Iffah yang masih mengantuk merengek juga, yang kemudian digendong abi dan di tidurkan di kursi dimana Alif duduk. Kepala Iffah yang berada tepat di sebelah Alif duduk di belai-belainya. Seperti saya/abi biasa membelai kepalanya kalo mau tidur.

Hhhhh… si kembar saya ternyata sudah besar…

(beberapa diantara keterkejutan saya -setelah hafalnya Iffah atas lagu-lagu yang lagi ngetrend yang dia ikut menyanyikannya saat mendengarnya di TV… ah…)

Nabiku dilecehkan

This blog has been archived

or suspended for a violation of our

Terms of Service.

Begitu yang tertera di layar komputerku saat aku ingin memastikan…

Alhamdulillah…

Itulah yang terlontar dari mulutku.

Dua hari yang lalu aku menerima alamat blog itu, plus kata-kata “Mohon ditindak” dari seorang temen. Masih bingung dan meraba-raba apa yang dimaksud, langsung ku klik alamat tsb.

Dada langsung sesak. Marah, benci, bingung, pengen nonjokin komputer juga… Isinya sungguh melecehkan, cabul, ga ada bagus-bagusnya deh… Lebih parah daripada kasus Denmark yang tentunya masih segar dalam ingatan. Parah!

Aku bingung harus gimana… Mau berharap kepada siapa? Kira-kira diapain ya?

Pagi ini, baru login ke gtalk-ku, langsung disapa seorang temen.

“Assalamu’alaikum bu…” (panggilan sayang kami = bu ^_^)

“Blog yang kemaren dah di tutup ” katanya kemudian.

Ada sedikit sangsi di hati, masa sih pemerintah secepat itu. Langsung kubuka alamat blog di wordpress itu. Dan… keluarlah kalimat di atas…

Headline Republika pagi ini “Kartun Pelecehan Nabi Muncul Lagi”. Entah kenapa rada seneng liatnya. Alhamdulillah pemerintah cukup cepat bertindak. Ternyata petinggi-petinggi negri ini juga sudah liat. Cuma seminggu kartun itu beredar (di tanggal posting tercantum 12 November 2008).

Hhhhhh…. cuma bisa menghela nafas panjang. Antara lega dan waspada. Begitu keras kerja musuh-musuh islam, begitu lihai. Hanya bisa mendoakan semoga blogger tsb mendapat hidayah (meskipun dia sendiri ga mau menerima hidayah dari Allah yang ….bla bla… telah menurunkan Muhammad yang … bla bla…. argh, pengen ku … astaghfirullahal’adzhiiim…

Pena Kecil Helvy

http://helvytr.multiply.com/

situs ini lah yang beberapa hari ini memenuhi layar komputer saya. Di sela-sela kesibukan menerima telepon tentang bermacam polah oknum instansi saya tercinta, tulisan-tulisan penulisnya sangat menghibur saya.

Helvy Tiana Rosa. Penulis produktif ini begitu memesona saya. Meski sudah beberapa kali mengunjungi tulisan-tulisannya, baik buku maupun blognya, tak ada rasa selain haru yang selalu menyentuh hati saya.

Sekiranya tak ada orang, tentu saya sudah menangis membaca satu persatu tulisannya… Sungguh, setiap katanya menohok relung hati saya…

Tentang cinta, tentang sedih, tentang rindu, tentang kebaikan, tentang masa lalu, semua terasa berarti dan layak untuk dikemas dalam tulisan. Ceritanya tentang suaminya, anaknya, keluarganya, tentang FLP (Forum Lingkar Pena), tentang Aceh, tentang Helvy Club, tentang buku, tentang segala sesuatu, semua mengalir indah terangkai dalam huruf demi huruf tulisannya…

Sudah lama saya mengagumi sosoknya, senyumnya, kepekaannya, produktifitasnya, kiprahnya dalam dunia penulisan, semuanya… Berharap suatu saat bisa bertemu, dan tentunya bisa mengikuti jejaknya… (pengen jadi penulis, punya buku sendiri, dibaca banyak orang, menjadi jalan orang2 mendapatkan hidayahNya…. ah, indahnya… )

Ah, tulisan-tulisan saya masih jauuuuuuuuuuh dari bagus… Tapi terpacu lagi untuk membuat tulisan yang lebih bermakna (daripada sekedar curhat ga jelas seperti yang selama ini terjadi T_T )

Bisa ga ya suatu hari saya membuat orang menangis, atau menjadi bersemangat, dengan tulisan-tulisan yang saya buat… Mudah-mudahan…

Mari berjuang lewat tulisan…

Hanya 500 rupiah !!

Kalo kamu naik kopaja/metro mini (untuk yang di jakarta) sedangkan jarak yang kamu tempuh dekat, berapa ongkos yang kamu bayar? Rp 2000,- atau Rp 2500,-? Atau malah cuma Rp 1000,-?

(Di dinding kopaja tertulis “Jauh/Dekat Rp 2500”.)

Sering saya lihat penumpang-penumpang hanya membayar 2000 rupiah, bahkan ada yang pernah membayar 1000 rupiah saja. Kadang si kondektur akan menagih 500 rupiah lagi -yang kemudian akan ditolak oleh si penumpang dengan alasan dekat. Kadang juga didiamkan saja -disertai ngedumel…

Padahal hanya 500 rupiah saudaraku! 500 rupiah!

Saya suka sedih kalo melihat kejadian ini, terutama jika dilakukan oleh orang yang ‘secara fisik’ kelihatannya tidak kesulitan untuk mengeluarkan uang yang hanya 500 rupiah tsb. Berikanlah haknya. Kecil bagi kita, besar untuk mereka.

Pernah dalam satu kesempatan saya harus menjemput adik saya ke bandara, karena nyampe di sininya malem. Nyoba naik Damri dari lebak bulus tapi -seperti perkiraan sebelumnya- udah ngga ada lagi busnya. Akhirnya aku nyoba langsung ke Blok M, biasanya masih ada (mudah-mudahan masih). Sekitar pukul 7 malem aku dianterin suami naik motor ke Blok M, tidak ada satupun Damri yang parkir. Kata tukang gorengan sekitar situ, biasanya jam 7-an ada yang dateng. 

Benar. Tak berapa lama kelihatan bus Damri namun begitu semua penumpang si sopir langsung mematikan lampu pertanda tidak ada bus lagi hari ini. Dengan berat hati memutuskan untuk naik taksi saja ke bandara, dengan perjanjian cukup membayar Rp 50.000 saja (plus uang tol kira2 11.000 rupiah). Tak diduga pak sopir mengambil 2 orang penumpang lagi yang kebetulan juga mau ke bandara, jadi di taksi itu ada 3 oang.

Sepanjang perjalanan saya hanya menduga-duga, berapakah saya harus membayar? Apakah 50.000 seperti perjanjian semula? Seharusnya lebih murah karena pak sopir mengambil 2 orang lagi yang ditagih 50.000 rupiah berdua. Pikir saya, pak sopir sudah mendapatkan lebih bahkan jika saya membayar setengahnya.

Sebelum pintu gerbang bandara, 2 orang gadis yang ikut bersamaku turun. Waktu aku sampai di terminal 1 dan turun, sebelum kubayar, aku mencoba bertanya dulu kepada pak sopir,

“Jadi berapa pak?”

“50.000 mba.”

“Tapi kan bapak ngambil penumpang lagi tadi. Bukannya saya bayar setengahnya pak?”

“Ya kan sesuai perjanjian awal tadi mba”

Saya kesal sekali. Saya membayar semua biaya tol. Pak sopir juga tidak meminta pendapat saya ketika dia akan menambah penumpangnya.

“Tapi bapak ga minta ijin sama saya pas mau nambah penumpang. Perjanjiannya kan 50.000 dengan penumpangnya hanya saya sendiri…. Demi Allah, bapak harus mempertanggung jawabkan uang ini kelak!” Ingin sekali saya meneriakkan kata-kata ini kepada pak sopir yang wajahnya berubah menjadi sangat menyebalkan di mata saya.

Namun saya diam saja, menghembuskan nafas keras, dan kemudian tanpa berterima kasih, membuka pintu dan sedikit membantingnya kemudian pergi…

Kekesalan saya belum reda. Saya belum makan malam. Memutuskan makan di salah satu restoran bandara (yang harganya ga ada yang murah) belum membuat kesal di hati ini reda.

Hhhh… berkali-kali menghembuskan nafas keras. Uang 50.000 (plus uang tol 11.000) cukup besar bagi saya… Astaghfirullah…

Saya lalu memikirkan kata-kata di kepala saya tadi….

“Demi Allah, bapak harus mempertanggung jawabkan uang ini kelak!”

Saya jadi teringat diri saya sendiri. Betapa ketika saya hanya absen pagi kemudian pergi menyelesaikan urusan pribadi saya dan masuk hanya setengah hari namun menerima tunjangan penuh, maka demi Allah, saya pasti akan mempertanggungjawabkan uang saya.

Saya takut, betapa banyak saya akan mempertanggungjawabkan penghasilan saya dihadapan Allah nanti, sedangkan saya saat ini hanya mempermasalahkan ongkos yang hanya 61.000 rupiah itu…

Astaghfirullah…

Ampuni aku ya Allah…

Senandung biduan jalanan

Sejak si abi kuliah, dari hari senin sampe kamis aku tidak lagi pulang maik motor. Tidak ada cerita kantor, obrolan ringan (maupun berat) sepanjang perjalanan pulang, waktu dimana kami hanya berdua saja (soalnya kalo di rumah ada anak-anak… ^_^)

Well, bukan itu yang mau saya bahas…

Menu wajib kopaja dan metro mini, tidak lain adalah para pengamen. Mengais rejeki dengan mengumandangkan satu atau beberapa nyanyian demi mengharap rupiah dari penumpang yang mungkin lebih beruntung.

Polahnya juga bermacam-macam. Namanya juga jakarta, ide yang ga ada habisnya, demi bertahan hidup. Mulai dari yang suaranya memelas, lembut alias lemes menghiba, nyanyi seadanya dengan perlengkapan gitar, harmonika, plus drum-drum’an, ada yang pake rebana, atau hanya berbekal botol aqua kecil yang di isi beras. Yang agak ‘serius’ biasanya pake tape + speker + mic sehingga bisa denger musiknya lengkap (kaya’ karaoke gitu). Nah, yang terakhir ini biasanya dapet banyak, karena suaranya bagus, ngga ngasal, kadang nyanyi beberapa lagu yang lagi “in”…

Seperti yang kutemui kemaren. Seorang gadis kecil dengan seorang bapak ngamen di bus yang kunaiki. Awalnya ga gitu perhatian. Mukaddimah seperti biasa (selamat siang, bapak2, ibu2, mohon maaf jika kami mengganggu… bla..bla…), terkejut begitu mendengar intro lagunya. Lagunya “Kaulah Segalanya” by Ruth Sahanaya (kebetulan pernah jadi lagu favoritku). Buset, nih orang lagunya boleh juga… Agak ragu dia bisa mencapai nada tinggi di reff-nya ngga ya? Dan ternyata berhasil saudara2… Tanpa kedengeran maksa, dia nyanyinya nyante banget… (udah sering kali ya…)

Masuk ke lagu kedua, langsung tau dari intronya, ni lagunya samson “Kenangan Terindah”. Pertama si bapak yang nyanyi dengan suara bass-nya dan dilanjutkan dengan mulus oleh gadis itu pas di reff.

Lagu terakhir, juga enak didenger, salah satu lagu dari Ungu (saya lupa judulnya)… Dilanjutkan dengan mengedarkan kantong plastik untuk mengumpulkan receh demi receh sampai penumpang paling belakang. Kulihat hampir semua tangan mengambil kesempatan memasukkan koin atau seribuan ke dalam kantong si gadis, termasuk tanganku.

Persis saat bus keluar tol, si gadis dan bapaknya sampai di pintu keluar di belakang dan ikut turun untuk menjemput rejeki lagi di bus-bus berikutnya…

Pernah juga suatu kali naik metri mini jurusan blok M-lebak bulus (rute tiap hari) kali ini nyoba yang via pondok indah. Sudah sekian pengamen yang mencoba menyenandungkan lagu pamungkasnya namun hanya lambaian tangan yang di dapat, kalo beruntung kadang plus senyuman. Seorang anak laki-laki lumayan gemuk naik dengan botol berasnya. Awalnya agak suudzon juga sama anak ini karena badannya yang gemuk (artinya menurut saya tidak seharusnya dia minta2, karena gizi terpenuhi… hehe…) Tapi saya langsung terhibur dengan nyanyiannya karena demi Allah suaranya bagus banget. Pantes untuk ikut ajang kompetisi semacam Idola Cilik dan sejenisnya itulah… Lagunya Ungu yang terbaru yang jadi soundtrack “Para Pencari Tuhan” itu (saya lupa judulnya apa) enak banget didengernya, nyanyinya ga ngasal dari awal sampe akhir bagus… Pendengar puas, dan berpindahlah receh demi receh ke kantong dari tangan2 yang tadi hanya memberikan lambaian, termasuk juga tangan saya…

Begitu keras perjuangan mereka yang mengadu nasib di ibukota, demi sesuap nasi harus rela berpanas2 berhujan2 naik turun dari bis satu ke bis lain. Tapi kalo sungguh-sungguh insyaAllah rejeki akan datang…

Sedikit cerita tentang pengamen yang ‘bagus’…

Pengamen juga manusia…

Pergilah sayang…

Pergilah sayang…

kejarlah keberkahan Ramadhan

yang tak datang dua kali

Pergilah kasih…

berlarilah menuju lailatul qadr

yang mulia tak terkira

Pergilah cinta…

cepatlah terbang kepada ridho-Nya

insyaAllah gerbang jannah-Nya terbuka untukmu

Semoga engkau mendapatkan apa yang kau impikan

sungguh… aku rela tinggal di sini

berharap ridhoku atasmu

membuatku juga dapat merasakan

keajaiban Ramadhan ini

[buat abi yang tidak pulang

demi Allah umi ridho bi

semoga Allah ridho kepada umi

karena umi ridho abi berlari mengejar lailatul qadr

semoga umi kecipratan barang sedikit keajaiban itu

Selamat i’tikaf abi… Doain umi ya…]

I’tikafku (kenangan 5 tahun yang lalu)

Ramadhan tahun ini kamu sudah i’tikaf?

Untuk para akhawat, i’tikaf mungkin sesuatu yang agak susah dilaksanakan, terutama bagi yang sudah menyandang predikat istri atau ibu. Ya, saya memang sudah 5 tahun tidak lagi pernah i’tikaf di masjid. Tapi saya akan ceritakan tentang i’tikaf pertama saya -mudah-mudahan bukan yang terakhir.

5 tahun yang lalu, (saya lupa ramadhan waktu saya tingkat 3 STAN itu tahun 2003 atau akhir 2002 ya? Kaya’nya akhir 2002 deh…) tahun terakhir saya di STAN. Saya bersama seorang yang sangat saya cintai memutuskan untuk melakukan i’tikaf sebelum pulang ke kampung halaman. Akhirnya kami janjian akan i’tikaf sehari sebelum saya mudik (karena dia sendiri mudiknya ke Tangerang… hehe… -sementara saya ke Payakumbuh).

Siangnya, tak lupa saya memberitahukan kepada panitia i’tikaf masjid Baitul Maal (ah, masjid penuh kenangan… Begitu berkesannya masjid ini bagi saya sampe-sampe saya pernah bercita-cita ingin taa’ruf dan menikah di masjid ini… ^_^) bahwa akan ada 2 akhwat yang akan beri’tikaf malam ini. (mohon maaf jika para pembaca kecewa, ternyata seorang yang saya cintai adalah seorang akhwat juga…)

Malamnya saya pun shalat isya dan tarwih di MBM, kemudian mendengarkan tausiyah penyejuk qalbu dari seorang ustadz, dan dilanjutkan dengan tasmi’ Alqur’an (kalo ngga salah, saya lupa). Tiba saatnya untuk istirahat. Dan panitia memutuskan kami akan tidur ruangan sekretariat Keputrian MBM (juga ruangan penuh kenangan ). Karena jendela yang hanya dibatasi kaca sehingga panitia harus menutup kaca-kaca tersebut dengan koran supaya tidak kelihatan dari luar. Kemudian kami pun beristirahat.

Lebih kurang pukul 2.30 dini hari (pasang alarm) kami bangun dan langsung menuju kamar mandi akhwat untuk sikat gigi dan berwudhu (ceritanya mau tahajjud). Kamar mandi akhwat pada saat itu memang kuncinya sedang rusak, sehingga tidak bisa dikunci dari dalam. Namun saya tenang saja karena menyangka tidak akan ada ikhwan yang berani masuk (orang ini kamar mandi akhwat!).

Dugaan saya salah! Sedang asyiknya sikat gigi, tiba-tiba masuk seorang bapak yang -seketika menyadari ada orang di dalamnya- langsung istighfar dan segera menutup pintu lagi dan pergi. Astaghfirullaah… Saat itu jilbab sedang saya buka. Entah bapak itu melihat saya atau tidak, saya juga ngga inget wajah bapak tsb, tapi sumpah serapah langsung keluar dari mulut saya (ngga segitunya sih. Hanya kata-kata kekecewaan, juga malu karena aurat yang -mungkin- kelihatan) ‘Gimana sih, ini kan jelas-jelas toilet akhwat. Koq berani-beraninya masuk. Meskipun jarang ada akhwat yang i’tikaf tapi kan… bla…bla…’

Bahkan sampai setelah berwudhu, kekesalan itu masih saja melanda. Omelan-omelan dengan suara rendah masih saja keluar dari bibir saya. Ukhti yang saya cintai yang dari tadi hanya diam saja kemudian berkata kepada saya,

“Udah. Sabar ukhtiy… Jangan rusak malam yang penuh berkah ini dengan kekesalan kecil. Yuk tahajjud…”

Kira-kira begitu kalimatnya. Yang jelas sehabis dia berkata seperti itu, saya tak bisa membendung air mata. Saya pun menangis tersedu-sedu di bahunya…

Ya Allah… mengapa saya begitu naif… Saya tahu pasti bapak itu ngga sengaja. Aurat saya juga belum tentu kelihatan, karena kejadian itu begitu cepatnya, bahkan saya juga ga sempet melihat wajah si bapak yang pasti penuh rasa bersalah…

Malam ini begitu mulia untuk diganggu dengan insiden ‘kecil’ yang ga penting. Ya, saya sudah merusak malam ini. Saya pun kemudian menebusnya dengan mencoba berlama-lama berkhalwat dengan-Nya.

Begitulah, peristiwa itikaf saya 5 tahun yang lalu yang insyaAllah tak kan terlupakan. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa merasakan indahnya malam penuh berkah di ramadhan tahun mendatang. Aamiiin…

 [ Salam sayang untuk ukhtiku Henny di Jember

Kisah cinta bersamamu terlalu indah untuk dilupakan

Miss you sooooo much… ]

Abi boleh nikah lagi, dengan syarat…

Lagi bahas poligami di DSH…

Well… semenjak belum menikah, saya termasuk golongan pro-poligami.Bukannya saya tidak cemburu, apalagi tidak cinta. Tentu saja saya cemburu sekali jika suami saya punya istri lagi. Dan jangan ditanya besarnya cinta saya kepada suami saya…

Saya pernah bertanya kepada beberapa akhwat (banyak -sekalian saya survey), seandainya suatu saat anti sudah berumur -misalnya- 35 dan belum menikah, tiba-tiba ada seorang ikhwan yang melamar anti, sebagai istri kedua -dengan catatan istri pertama sudah setuju, apakah anti akan menerima?

Semua menjawab “Ya” (bersedia).

Alhamdulillah saya tidak berada pada posisi tsb (soalnya kalo saya berada di posisi itu, belum tentu saya akan mengatakan “ya” ). Tentu saja menjadi istri kedua tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi untuk menjadi istri pertama yang sudah merasakan indahnya hidup berdua, indahnya mencintai suami dan merasakan cinta suami yang penuh kepadanya, tiba-tiba harus berbagi dengan wanita lain… Ah, tentu saja tidak enak…

Tapi entah kenapa saya tidak pernah keberatan, bahkan memikirkan pun tidak. Tahukah dialog hari pertama saya dengan suami? Saya bilang tidak keberatan jika suatu saat abang menikah lagi. Suami bilang : “Belom juga diapa-apain udah mau dipoligami”  Saya : “Justru karena belom diapa-apain makanya bisa bilang ga apa-apa dipoligami.”

Ditahun pertama pernikahan, saya pernah bilang,”Abi boleh poligami dengan satu syarat.” Suami penasaran, “Emang apa syaratnya?” Saya bilang, “Nanti umi bilang kalo abi bener-bener nikah lagi. Yang jelas bukan ‘langkahi dulu mayatku’.”

Sampe sekarang suami saya ngga tau apa syaratnya, bahkan setelah saya bilang, “Abi boleh nikah lagi tanpa syarat.”

 

Mau tahu syarat apa yang saya ajukan kemudian saya hilangkan?

 

Kasih tau ga ya?…

 

Dulu saya mau mengajukan syarat,

“Asal di syurga nanti hanya umi satu-satunya istri abi.”

 hehe…

Tapi kemudian saya tiadakan, karena saya jadi kasihan sama istri kedua (atau istri berikutnya). Lagian saya kan juga bisa mendapatkan bidadara (halah!) ato saya mau sering2 ‘main’ ke istananya Rasulullah aja… hehe… Pasti cintanya selalu ada untuk saya (lha saya kan ummatnya.) Mungkin saya juga dah lupa sama suami saya (saat saya bersama Rasulullah… ) hehe…

(maaf jika tidak berkenan…

namanya juga berandai-andai

-dalam rangka berdoa juga…)

Godaan itu begitu besar

Ramadhan kali ini cukup berat buat saya. Si dede masih 5 bulan, belum genap 6 bulan untuk merampungkan ASI eksklusifnya. Tapi saya masih berusaha sekuat tenaga untuk tetap berpuasa demi menyambut bulan penuh berkah yang datangnya hanya setahun sekali ini.

Sebenarnya saya berat. Betapa inginnya saya tidak berpuasa memanfaatkan rukhsah alias keringanan yang Allah berikan untuk ibu yang menyusui. Betapa inginnya saya… tapi saya takut saya ‘memudah-mudahkan’, padahal ASI untuk si dede masih cukup -meskipun sangat pas-pasan untuk ukuran 12 jam saya tinggalkan.

Semata-mata saya hanya ingin menikmati keberkahan bulan ini. Saya hanya berharap, meskipun berkurang tapi mudah-mudahan ASI yang diteguk si kecil bisa lebih berkah karena puasa uminya. Mungkin ada zat-zat yang diproduksi tubuh yang bermanfaat yang hanya diproduksi ketika seseorang berpuasa… Wallahu a’lam…

Semoga Allah meridhoi apa yang saya lakukan…

(Hanya itu yang kita harapkan bukan? Apalagi?)

Madu sebagai obat

 

Dalam dunia medis, penggunaan madu sebagai obat sudah dimulai sejak zaman Yunani dan Mesir Purba. Saat itu di Mesir, madu merupakan salah satu dari 500 obat terpopuler.

 

Madu sebagai obat penyakit jantung
Dr. FG Winarno, Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, dalam bukunya “Madu, Teknologi, Khasiat dan Analisa”, menyatakan: Gula dan mineral dalam madu berfungsi sebagai tonikum bagi jantung. Otot-otot jantung bekerja tanpa henti/istirahat, sehingga selalu membutuhkan glukosa sebagai sumber tenaga untuk mengganti energi yang hilang. Nutrisi madu sebagian besar (31%) terdiri atas glukosa.

 

Colomb dan Raff menyatakan:

Konsumsi madu 70% perhari selama 1-2 bulan oleh pasien penderita penyakit jantung berat akan menghasilkan konsisi yang baik, penerimaan darah makin normal serta kekuatan jantung meningkat

 

Madu sebagai obat masuk angin

Dalam bentuk madu biasa atau campuran dengan bahan lain, kombinasi yang sering dipakai adalah susu hangat atau sari jeruk peras. Separuh atau satu jeruk cukup untuk setiap 100 gram madu.

 

Madu sebagai obat penyakit lambung dan pencernaan

kandungan mineral yang cukup tinggi dapat mengurangi derajat keasaman dan membantu mencegah pendarahan lambung.

Mineral yang tinggi dapat meningkatkan pH dari lambung.

Semakin gelap warna madu semakin tinggi kandungan mineral, sehingga makin tinggi daya alkalinasinya. Hal ini semakin potensial untuk mengatasi penyakit lambung dan usus akibat penumpukan asam lambung.

 

Madu untuk mengobat penyakit paru-paru
Pasien Tuberkulosis (TBC) yang diberi madu 100-150 gr per hari, memberikan pengaruh positif, yaitu:

  • Berat badan bertambah
  • Batuk mereda
  • Haemoglobin meningkat
  • Laju pengendapan darah melambat

Madu untuk pengobatan luka infeksi

Luka-luka menjadi steril setelah mendapat pengobatan dengan madu selama 7-10 hari.

Madu terbukti dapat mempercepat pembentukan jaringan-jaringan yang halus.

RESEP OBAT DARI MADU

Madu yang berfungsi sebagai Suplement Food (makanan tambahan) dan obat dalam penggunaannya dapat dicampurkan dalam produk makanan lainnya, antara lain: buah-buahan, atau sari buah. Beberapa contohnya adalah:

  1. Pisang Ambon dicampur dengan madu dan susu merupakan makanan bayi yang baik
  2. Pisang (jenisnya tergantung selera dilumatkan sampai halus, dicampur dengan segelas air kelapa muda dan sedikit madu, kemudian disaring. Air hasil saringan berkhasiat bagi penderita campak dan tuberkelosis (TBC)
  3. Beberapa tetes sari buah pepaya dicampur madu berkhasiat memperlancar air susu ibu.
  4. Beberapa tetes sari buah pepaya dicampur madu merupakan tonikum yang baik untuk pertumbuhan anak, wanita hamil dan menyusui
  5. Pepaya dicampur susu dan madu baik untuk mengatasi ketidakberesan saluran seni, berbagai gangguan jantung, otak, hati, urat syaraf, darah, wasir dan sembelit.
  6. Jeruk peras ditambah madu dapat mengatasi gangguan jantung.
  7. Segelas air jeruk ditambah sedikit garam dan satu sendok makan madu, berkhasial untuk penderita TBC, asma, masuk angin dan bronchities.
  8. Segelas penuh sari wortel dicampur satu sendok makan madu dan satu sendok teh sari jeruk nipis, dapat menanggulangi mual-mual pada wanita hamil, gangguan empedu, radang lambung, kencing tidak lancar, dan tubuh letih serta lesu (diminum sebelum makan pagi.
  9. Air kelapa ditambah sedikit madu berkhasiat meniadakan akibat buruk dari gairah seks yang berlebihan.
  10. Segelas penuh sari mentimun dicampur satu sendok teh madu dan satu sendok teh sari jeruk nipis bermanfaat memperlancar buang air kecil (dieurectic), keracunan saat hamildan kencing yang sedikit akibat kurang cairan (diminum dua kali sehari).

Catatan: Jenis madu yang digunakan tergantung selera konsumen, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemakaian.